Ciputra News



jasa

Banner
Banner
Banner
Amankan Bisnis
Menghindari Gelembung Ekonomi PDF Cetak E-mail

gel_bub98Dalam keuangan, fenomena gelembung atau bubble merujuk kepada sebuah kondisi yang di dalamnya terdapat terlalu banyak uang untuk mengejar aset, produksi aset yang lebih besar dan mentalitas pengikut. Dalam business plan usaha rintisan, bubble berarti terlalu banyaknya jumlah entrepreneur dan terlalu banyak investor yang mengejar tren terkini seperti mesin pencari Google, jejaring sosial Facebook atau situs perdagangan digital Amazon. Dalam semua kasus ini, kebangkrutan tidak bisa dihindari dan semua orang kalah.

 

 

Berikut adalah beberapa langkah untuk menghindari gelombang dalam ekonomi sebagaimana yang bisa juga terjadi dalam sebuah usaha rintisan.

  1. Hindari mentalitas pengikut tren. Secara teoretis, kita bisa gambarkan mentalitas ini sebagai sebuah kecenderungan orang untuk selalu mengekor, mengikuti apa yang tengah menjadi tren tanpa memedulikan apakah ia mampu atau tidak menghasilkan sesuatu yang inovatif. Untuk usaha rintisan, para investor biasanya menyingkirkan business plan dengan 10 pesaing nyata atau lebih.
  2. Kepercayaan diri berlebihan. Dalam keuangan, asumsi bahwa kali ini akan berbeda bisa menjadi awal dari menggelembungnya ekonomi. Dalam sebuah usaha rintisan, anggapan bahwa usaha Anda menawarkan solusi yang berbeda tanpa adanya analisis fitur dasar yang kokoh , fitur yang terdiferensiasi,  atau pengadopsi awal. Perubahan selalu membawa kesulitan sehingga orang yang telah menggunakan Amazon tidak mudah untuk beralih ke sistem e-commerce lainnya.
  3. Suplai dan permintaan yang belum terpenuhi. Kita semua yakin bahwa suplai dan permintaan ditemukan untuk menciptakan harga yang stabil. Namun, kadang harga yang stabil mendorong naiknya jumlah permintaan yang pada akhirnya menciptakan sebuah ‘ledakan’. ‘Ledakan’ terjadi saat harga yang lebih rendah merangsang munculnya suplai lebih banyak. Dalam usaha-usaha rintisan, keberhasilan besar seperti yang dialami Google menyebabkan ‘ledakan’ karena mendorong timbulnya lebih banyak suplai tanpa memperhitungkan tinggi rendahnya permintaan.
  4. Uang yang mudah. Aliran ekonomi Austria menegaskan bahwa “uang yang mudah didapat ialah akar dari segala kejahatan”. Hal ini bisa menjelaskan mengapa terjadi ledakan dan siklus penggelembungan ekonomi. Ini juga berlaku untuk usaha rintisan, di mana uang yang mudah didapat timbul saat terlalu banyak investor datang dan menawarkan investasi. Para ahli berpendapat bahwa persentase usaha rintisan yang lebih tinggi akan menurun tajam jika dana yang ada terlalu banyak.
  5. Distorsi yang disebabkan oleh kebijakan. Tindakan pemerintah kadang ikut campur dalam keseimbangan permintaan dan suplai yang normal atau alokasi dana. Dalam usaha-usaha rintisan, pemerintah cenderung mendukung usaha dengan solusi energi alternatif dan ramah lingkungan untuk secara terencana menciptakan sebuah gelembung ekonomi. Hal itu sering menyebabkan gelembung bagi usaha rintisan yang belum sepenuhnya siap atau kokoh.
  6. Penilaian terlalu tinggi, laba rendah. Sebuah sinyal terjadinya gelembung ialah saat aset dibuat seolah-olah lebih tinggi dari yang sebenarnya tanpa adanya nilai intrinsik atau aliran kas yang relevan. Twitter, misalnya, sangat rentan terhadap gelembung seperti ini.

Setiap usaha rintisan menginginkan untuk menjadi satu dari keberhasilan besar berikutnya tetapi ini mustahil untuk diprediksi. Lebih mudah untuk menemukan sebuah fenomena gelembung dan menahan keinginan untuk mebuat sebuah produk yang mengekor kesuksesan usaha lain. Fokusnya selalu harus pada pelaksanaan, penerimaan, dan laba. Usaha rintisan yang menguasai perulangan, momentum, dan kemampuan untuk berputar yang akan memenangkan persaingan.

 

 
«MulaiSebelumnya12345678910BerikutnyaAkhir»

Halaman 1 dari 196
Copyright © 2013 Ciputra Entrepreneurship
Mobile Version