Memupuk Budaya Pro-Entrepreneurship: Sebuah Tugas Tanpa Akhir
Hits : 1828
Minggu, 01 Juli 2012 16:13
CE News - Selama lawatannya ke Korsel, Bill Aulet (seorang pengajar senior di MIT’s Sloan School of Management dan Managing Director of the MIT Entrepreneurship Center) menemukan seorang teman yang mengeluhkan nasib temannya yang bekerja sebagai seorang entrepreneur sukses dengan sebuah bisnis pendidikan berkaryawan 6 orang. Saat hendak menikah, si entrepreneur muda ini ditentang oleh calon mertua karena bekerja sebagai entrepreneur. Dan karena ia begitu mencintai pasangannya, ia kemudian memutuskan untuk melepaskan kehidupannya sebagai entrepreneur dan berbalik arah menjadi pegawai pemerintah yang menerima gaji bulanan. Lamarannya diterima dan mereka menikah dengan restu orang tua keduanya.
Kisah yang terdengar familiar di masyarakat Indonesia pula, bukan? Tak beda dengan Indonesia, di Korsel para politisi juga giat mengkampanyekan entrepreneurship di berbagai pelosok negeri dengan investasi yang tak sedikit tetapi upaya ini akan membuahkan hasil jika dan hanya jika nilai dan prinsip budaya yang dianut masyarakat setempat mendukung berkembangnya entrepreneurship. Semua seminar dan insentif berupa kredit usaha rakyat akan sia-sia jika masyarakat kita masih memberikan tekanan pada generasi muda untuk mendapatkan pekerjaan yang, menurut mereka, stabil dan aman.
Bekerja di perusahaan besar atau di sektor pemerintahan adalah keharusan jika ingin diterima di keluarga pasangan, terutama jika Anda seorang pria. Samsung, LG dan Hyundai tidak memecat pegawai. Perusahaan sebesar mereka dapat mempertahankan stafnya dalam jangka pendek karena ukuran dan aliran pemasukan yang tak berhenti mengucur.
Di sisi lain, entrepreneur tak mempunyai sabuk pengaman semacam itu. Mereka belajar untuk mengumpulkan uang hari demi hari. Beberapa generasi dibesarkan dalam kultur perusahaan konservatif ala Korea/ Jepang/ Jerman yang menghancurkan pertumbuhan entrepreneurship dan masyarakat itu sendiri. Entrepreneur mendorong pertumbuhan ekonomi lebih daripada yang dilakukan perusahaan besar dan pemerintah. Mereka juga mendorong tumbuhnya inovasi baru dan menciptakan lapangan kerja untuk menyerap pengangguran yang makin bertebaran di berbagai pelosok dunia yang perekonomiannya makin tak menentu.
Finlandia ialah contoh yang baik dari pertumbuhan lekonomi yang dimotori entrepreneur. Dengan penurunan kinerja Nokia yang menjadi motor utama ekonomi negara itu, sekelompok entrepreneur sedang berupaya mempertahankan ekonomi negara melalui inovasi baru seperti software aplikasi mobile. Aplikasi game "Angry Birds" ialah produk Finlandia yang paling banyak dikenal yang mendapat perhatian dunia dan investasi skala global. Rovio, perusahaan yang membuat game itu menciptakan banyak pekerjaan baru yang berkelanjutan di sana.
Korsel bukan hanya negara tempat budaya kontra entrepreneurship berkembang, kata Aulet. Di Spanyol, misalnya, ditemui pula budaya serupa, demikian juga di banyak masyarakat dunia. Indonesia adalah salah satunya.
Masalah sistemik yang begitu mengakar seperti budaya inilah yang sangat menantang karena sifatnya yang tidak bisa ditebak dan dinalar. Mendanai program pelatihan atau seminar memang jauh lebih mudah. Namun, kegagalan dalam mengatasi akar masalah budaya anti-entrepreneurship ini akan menyebabkan kita makin terpuruk dan lebih buruk lagi, akan membuat kita berhalusinasi, seolah sudah sukses mengubah bangsa dan masyarakat menjadi lebih entrepreneurial.
Satu hal yang patut kita sadari bersama bahwa menanamkan budaya yang pro-entrepreneurship adalah sebuah perjalanan panjang yang membutuhkan waktu, dan mungkin tidak akan berakhir.(*AP)