Ciputra News



jasa

Banner
Banner
Banner
Media
Kadek Pramartha, Pencipta Majalah Kartur Berbahasa Inggris PDF Cetak E-mail
Kamis, 24 Maret 2011 11:19
Sebagai kartunis, Kadek Pramartha ingin total berkiprah. Salah satu karyanya adalah Bogbog. Itu adalah nama majalah kartun yang dia dirikan sejak 10 tahun lalu. Oleh Muri (Museum Rekor Indonesia), Bogbog disebut sebagai majalah kartun pertama yang berbahasa Inggris. Apa yang membuat majalah itu bertahan?

kadek_pbogbogBogbog dibuat dengan cover berisi komik setrip dengan cerita seorang bule asal Amerika yang jatuh cinta pada budaya Bali. Si bule itu memutuskan untuk tinggal dan membuka bisnis pariwisata di Pulau Dewata.

Si bule yang dalam cerita komik tersebut diberi nama Mr Smith itu kemudian mempekerjakan dua warga Bali untuk membantu usaha pariwisatanya. Keduanya bernama Wayan Kari dan Desak Nyoman. Dalam perjalanan usahanya, Smith pusing bukan main ketika para karyawannya sering meminta libur. Mereka izin libur untuk mengikuti berbagai upacara adat di kampung masing-masing. ’’Nah, seperti itulah karya-karya kami,’’ ucap Kadek yang lebih akrab disapa Jango itu.

Menurut dia, memang begitulah kondisi masyarakat Bali. Meski hidup di tengah globalisasi, sebagian orang masih memegang keteguhan adat. Melalui Bogbog, Jango ingin mengangkat budaya-budaya Bali melalui bahasa yang universal. ’’Selain itu, kami ingin mengemas kritik sosial yang bisa dimengerti siapa saja, tapi membuat mereka yang membaca tetap tertawa,’’ ungkapnya Bagi Jango, kartun merupakan bahasa universal yang efektif untuk menyampaikan sebuah pesan.

Hal itu setidaknya dirasakan Jango saat mengenyam pendidikan di Univesity of Western Australia (UWA) pada 1993–1995. Di tengah kuliah tersebut, dia juga diminta menjadi asisten dosen oleh Carol Waren, antropolog yang biasa melakukan penelitian di Bali. Ketika menjadi asisten dosen, Jango sering diminta memberikan materi kuliah. ’’Waktu itu bahasa Inggris saya masih parah, sehingga saya sering menggunakan bahasa kartun. Sering ketika saya menjelaskan melalui kartun, mahasiswa di kelas itu malah mengerti dan mereka menikmati dengan tertawa-tawa,’’ jelas pria 45 tahun tersebut.

Dari situ, akhirnya dia yakin keahliannya menggambar selama ini sangat bermanfaat. Sepulang dari Australia, Jango kemudian berupaya mewujudkan impiannya untuk membuat sesuatu dari keahliannya membikin kartun. ’’Saya ingin bagaimana kartun menjadi suvenir Bali yang cerdas,’’ ucap suami Putu Sefty Virgantini tersebut.

Sejak muda Jango memang dikenal sebagai kartunis. Setidaknya belasan tahun dia tercatat sebagai kartunis lepas salah satu media di Pulau Dewata. Sembari mengajak ke ruang workshop majalah Bogbog, dia mulai menjelaskan penerbitan majalah yang didirikan sejak 2001 tersebut.

Sepulang dari Aussie, Jango tidak langsung membuat majalah Bogbog. Dia awalnya memilih berbisnis T-shirt untuk suvenir dengan berisi aneka desain kartun bermuatan kritik sosial serta globalisme Bali. Melalui T-shirt itu, selain bisnis, ada sisi idealisme yang ingin dicapai Jango. Melalui kartun, dia dan kawan-kawannya ingin mengajak orang Bali serta masyarakat dunia melihat globalisme di Bali. Dia lantas menunjukkan sebuah kartun bertulisan gloBALIsme. Mantan president of Indonesian Cartoonist Association itu menyatakan, majalah Bogbog awalnya dibuat atas kefrustrasian Jango dan beberapa temannya karena usaha T-shirt-nya gulung tikar lantaran terus melambungnya harga sewa stan di Kuta. Dari situ, Jango memikirkan bagaimana agar idealismenya tetap bisa diwujudkan hingga akhirnya terpikirlah untuk membuat majalah kartun. Dimulailah penerbitan Bogbog pada 1 April 2001. ’’Kami sengaja pilih pas April Mop. Karena itu namanya Bogbog,’’ ucapnya.

Dalam bahasa Bali, bogbog berarti bohong. Menurut Jango, ada banyak filosofi dari kata bogbog. Salah satunya, dalam pandangan dia, selama ini banyak berita dan informasi bohong. Selain itu, nama bogbog sesuai dengan isi majalah. Yakni, hampir 99 persen berisi kartun dengan kisah fiktif. Sejak awal penerbitan, segmen pasar yang dibidik majalah bulanan itu adalah turis asing. Tak heran, bahasa dalam Bogbog dibuat bilingual, yakni Inggris dan Indonesia. Awalnya, Bogbog dijalankan tiga kartunis. Selain Jango, ada Putu Adi Supardi dan Ceceriberu. Mulanya mereka bekerja tanpa memperoleh gaji. Baru setahun setelah berjalan mereka bisa menikmati hasilnya. Kantor redaksinya pun awalnya menumpang di rumah Jango. Sekarang majalah tersebut sudah punya kantor Mandiri di sebuah ruko dua lantai di Jalan Veteran, Denpasar. Jango mengakui, sebagian pendanaan majalah itu awalnya banyak disuplai sumbangan teman-temannya. Baik sesama kartunis maupun teman Jango di luar komunitas kartun. (*/Indopos)
 
«MulaiSebelumnya11121314151617181920BerikutnyaAkhir»

Halaman 14 dari 24
Copyright © 2013 Ciputra Entrepreneurship
Mobile Version