BRAy Mooryati Soedibyo terus melegenda sebagai pakar dan pelaku industri jamu terkemuka yang diakui dunia internasional. Warisan tradisional nenek moyang dari lingkungan keraton Jawa yang hampir terpendam diangkatnya kembali ke permukaan. Dalam sentuhan tangan dinginnya jamu merek Mustika Ratu mampu dipersandingkan bersaing sejajar bahkan mengunguli obat-obatan klinis (kimiawi) keluaran industri farmasi.
Mooryati Soedibyo dilahirkan di Surakarta, Jawa Tengah pada 5 Januari 1928. Mooryati Soedibyo awalnya merintis usaha jamu di tahun 1960-an tak lama setelah menikah. Eskalasinya kemudian meningkat sesudah semua anaknya tumbuh besar. Ditambah statusnya sebagai istri seorang pegawai negeri yang memberi banyak kebebasan dan waktu luang untuk berkreasi meracik jamu.
Bagi Moryati, jamu adalah obat untuk memelihara kesehatan dan kosmetika untuk merawat kecantikan tubuh. Jaringan pemasaran produk-produk obat dan kosmetika yang dihasilkan perusahaan yang didirikannya tahun 1975, PT Mustika Ratu, sudah menjangkau mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Philipina, Taiwan, Jepang, Timur Tengah, Rusia, dan Belanda.
Ekspor jamu-jamuan Mustika Ratu menyumbang pendapatan 15 persen dari total penjualan perusahaan, mengukuhkannya sebagai pemasok jamu dan kosmetik tradisional yang leluasa membuka jaringan ditribusi baru ke seluruh penjuru dunia.
Mustika Ratu adalah potret keberhasilan evolusi pengolahan jamu. Jamu menjadi bagian dari gaya hidup modern yang tak terpisahkan. Khasiat jamu yang demikian baik merawat kesehatan dan kecantikan tubuh, dimunculkan dalam beragam produk dan kemasan yang menarik. Jamu, diramu dan digali dari kekayaan keanekaragaman tumbuh-tumbuhan yang ada di Indonesia. Jamu tak lagi harus diminum bergelas-gelas untuk merawat kesehatan dan mempercantik tubuh, misalnya. Melainkan, bisa dalam bentuk ekstrak pil yang merupakan intisari beragam jenis dan jumlah tumbuh-tumbuhan.
Di tangan Mooryati, jamu menjadi sama bergengsinya dengan produk obat-obatan dan kosmetika kecantikan modern. Diolah berdasarkan modernisasi teknologi dan industrialisasi, jamu bisa berbentuk ekstrak dalam kemasan pil. Meski begitu, jamu tetap mempertahankan identitas sebagai jamu. Sebab di situlah letak kekayaan jamu sebagai warisan nenek moyang yang luhur, sekaligus membedakannya dengan obat-obat dan produk kecantikan lain keluaran industri farmasi. Pada jamu terdapat pula pengagungan masyarakat akan kepandaian nenek moyang memelihara tubuh dan kecantikan diwariskan secara turun-temurun khususnya di lingkungan keraton.
Penggunaan identitas dan sebutan jamu adalah jaminan lain lain tersedianya pangsa pasar luas. Sebab ini menyangkut kepercayaan masyarakat terhadap khasiat jamu yang tak lekang oleh panas dan tak lapuk oleh hujan. Malah, di abad globalisasi semakin berkembang kebiasaan dan gaya hidup baru untuk kembali ke alam, back to nature di seluruh dunia dengan menggandrungi produk yang terbuat dari bahan alami dan proses produksi tidak merusak kelestarian alam. Jadilah masyarakat kalangan bawah hingga elit menjadi pengguna fanatik jamu untuk menjaga kesehatan dan merawat kecantikan tubuh. (*/ dari berbagai sumber)