Ciputra Entrepreneurship

Ciputra Entrepreneurship

Kisah Keberhasilan Mirota Batik Angkat Bisnis Batik dan Handicraft Yogyakarta

30 Nov 2013 Hits : 4,102

Membangun bisnis batik tidak cukup hanya dengan mengandalkan modal dan kerja keras. Tapi juga diperlukan strategi dan kreativitas dalam memasarkan produk batik tersebut. Itulah yang dilakukan Hamzah Sulaiman, seorang pengusaha sukses, pengelola kelompok usaha Mirota. Ini adalah jaringan ritel legendaris di Yogyakarta.

Peritel ini antara lain mengoperasikan, Mirota Batik, yang dikenal sebagai penyedia batik, kerajinan kayu, perak, tas laptop bermotif batik, dekorasi rumah, sepatu atau sandal, topi, tikar, asbak, minyak aroma terapi, dupa, hingga makanan ringan. Sebagai toko batik, suvenir dan kerajinan, Mirota Batik menjadi salah satu tempat favorit belanja wisatawan yang berlibur di Yogyakarta.

Kisah pria kelahiran Yogyakarta, 62 tahun silam, ini mengembangkan Mirota, bermula dari “terpaksa”. Saat berumur 25 tahun, ayahnya, Hendro Sutikno, meninggal pada tahun 1975. Hendro adalah pendiri cikal bakal Mirota. mau tak mau, Hamzah harus mewarisi toko kelontong di Malioboro warisan orang tuanya.

Hamzah bahu-membahu dengan kakaknya, membangun toko kelontong itu hingga besar seperti sekarang. Salah satu upayanya adalah membuka cabang Mirota di Jalan Kaliurang, sekitar 16,5 kilometer (km) dari Kota Yogyakarta. Setelah itu, ekspansi Mirota tak terbendung.
Oh, iya, nama Mirota sendiri berasal dari nama toko roti milik ibunya. Saat itu, ibunya membuka toko roti bernama “Minuman dan Roti Tart” yang disingkat menjadi “Mirota”.

Pusat Mirota hingga saat ini masih berada di Malioboro. Toko yang terdiri dari empat lantai ini selalu penuh sesak oleh pembeli. Toko ini mulai dirintis tahun 1977 dengan modal Rp 80 juta. Toko unik ini berdiri sejajar dengan toko-toko lainnya di jalan Malioboro. Toh, Mirota mampu menarik minat banyak pembeli karena toko ini dikelola dengan cara unik. Misalnya mendesain toko dengan pernak-pernik budaya Jawa kuno. Kebetulan, sejak kecil Hamzah memang menyukai seni.

“Sejak saya umur enam tahun, saya suka menari Jawa kuno,” ujarnya.

Dengan memadukan kesenian Jawa, Hamzah mengaku tidak hanya menjual batik dan suvenir saja di tokonya. Dia juga menjual suasana dengan kekayaan tradisi yang ada di Yogyakarta.

Berbagai ornamen Jawa yang menghiasi interior toko di antaranya bunga-bunga khas Keraton Yogyakarta, pernak-pernik keraton, sesajen dan gamelan. Bagi Hamzah, tokonya harus tampil beda dari toko-toko lain yang ada di Yogyakarta dan Jakarta.

Upayanya itu tidak sia-sia. Terbukti, kehadiran berbagai ornamen Jawa itu mampu menyedot minat konsumen untuk mengunjungi toko tersebut.
Dengan mengunjungi Mirota, Hamzah ingin pembeli sadar bahwa mereka sedang berada di Yogyakarta. Selain memasukkan ornamen jawa, Hamzah juga memiliki kiat lain dalam mengelola tokonya agar bisa sukses. Salah satunya dengan memperhatikan kesejahteraan karyawan

Untuk itu, ia menerapkan sistem bagi hasil. Jika penjualan di toko meningkat, karyawan akan mendapatkan penghasilan yang besar. Jika penjualan turun, pendapatan karyawan juga akan turun. Mirota Batik kini menjadi salah satu tempat belanja favorit bagi wisatawan yang berlibur di Yogyakarta. Toko empat lantai yang terletak di Jalan Malioboro itu menjajakan berbagai produk batik dan kerajinan khas Yogyakarta.
Mirota Batik memang bukan lagi sekadar toko batik, melainkan pusat barang seni. Setiap pengunjung Mirota langsung disambut alunan gending Jawa, sehingga kesan tradisi Yogyakarta begitu kental.
Tak heran, bila Mirota Batik kini memiliki pasar dan pelanggan sendiri. Semuanya dimulai ketika ayah Hamzah, Hendro Sutikno meninggal dunia di tahun 1975. Kala itu, Hamzah yang baru menginjak usia 25 tahun mewarisi warung kelontong ayahnya di Jalan Malioboro, Yogyakarta.
Di tangannya, warung kelontong tersebut disulap menjadi Mirota Batik. Kecintaan pada seni dan budaya Jawa yang mendorongnya membuka toko batik.
Kebetulan ia juga bisa mendesain batik. “Bakat desain batik, saya kembangkan secara autodidak,” ujarnya.

Awal mula pendirian

Saat awal didirikan pada tahun 1978, Mirota Batik belum sebesar sekarang. Selain tempatnya kecil, pembelinya juga masih sepi. Apalagi, Malioboro saat itu masih sepi. Tapi Hamzah tak patah arang. Meski sepi pembeli, ia tetap memasarkan batik-batik hasil desainnya di Mirota.
Usahanya mulai berkembang saat ia menjalin kerja sama dengan pemilik Batik Danar Hadi. Selain mendapatkan pasokan batik dari Danar Hadi, Hamzah juga mendatangkan batik dari berbagai daerah.

Agar isi tokonya lebih bervariasi, ia pun mulai memasarkan barang-barang kerajinan khas Jawa. Untuk itu, ia suka membawa contoh barang ke perajin untuk dipasarkan di tokonya. Hubungannya dengan para perajin ini dimulai sekitar tahun 1980-an. Saat itu, tak jarang ia mencari perajin hingga ke pelosok daerah. Lambat laun, usahanya itu mulai membuahkan hasil sampai akhirnya dilirik orang.

Selain isi toko makin bervariasi, desain interior toko yang unik juga menjadi daya tarik Mirota Batik. Bisa dikatakan, Mirota kini menjadi semacam miniatur Yogyakarta. Bahkan ada yang berpendapat, bagi wisatawan yang tidak sempat menyusuri Malioboro, cukup berkunjung ke Mirota karena semua sudah terwakili dan tersedia lengkap di sini.

Pernah terbakar

Setelah Mirota Batik di Malioboro makin berkembang, Hamzah pun melakukan ekspansi dengan membuka cabang baru di Jalan Kaliurang, Yogyakarta. Toko di Kaliurang juga berkembang dengan pesat. Namun, di tengah pesatnya pertumbuhan bisnis yang dikelolanya, sebuah musibah datang menghampiri. Pada 2 Mei 2004, Mirota Batik di Mailoboro terbakar. Tidak ada satu pun yang tersisa pasca kebakaran tersebut. Semuanya ludes dilalap si jago merah.
Namun, Hamzah tidak patah arang.

“Cobaan berat itu harus dihadapi dengan sabar dan tetap berjuang,” ujarnya.

Setelah kejadian itu, Hamzah memutuskan membangun Mirota dari nol lagi. Tekadnya terbukti sukses. Mirota berjaya lagi bahkan berdiri menyerupai mal modern dengan ciri khas Yogyakarta. Jatuh bangun menjalankan usaha sudah dirasakan Hamzah Sulaiman. Pengalaman pahit yang pernah dialaminya ketika Mirota Batik di Malioboro terbakar. Peristiwa itu terjadi pada 2 Mei 2004.

Tidak ada satu pun yang tersisa pasca kebakaran tersebut. Semuanya ludes dilalap si jago merah. Tetapi, hal itu tidak membuatnya putus asa. Pantang menyerah dan terus berusaha memang menjadi moto hidupnya.
Untungnya, ia masih memiliki sisa tabungan untuk membangun kembali Mirota. Hanya dalam waktu setahun, Hamzah berhasil membangun kembali gedung Mirota Batik di Malioboro.

Bahkan, gedung baru tersebut tampak lebih megah dari bangunan lama. Terdiri dari empat lantai, Mirota Batik kini menyerupai mal.
Yang memakan waktu agak lama ketika ia harus mengisi dan mengembalikan detail toko. Konsepnya, ia ingin membangun tempat wisata belanja batik dan kerajinan yang nyaman. Tapi, semua kesulitan itu berhasil dilaluinya.

Mirota kali ini lebih mentereng dan lengkap. Jumlah pengunjung pun kian membeludak, terutama di akhir pekan. Setelah Mirota berkembang pesat, Hamzah memutuskan untuk mundur dan menyerahkan pengelolaan toko kepada orang kepercayaan. “Saya memilih pensiun,” ujarnya.
Namun, naluri bisnis tetap saja memanggilnya. Di masa pensiun, ia justru mendirikan restoran bernama House of Raminten. Restoran berbentuk kafe ini berdiri pada 26 Desember 2008 di kompleks rumahnya, di Jl FM Noto No 7 Kotabaru, Yogyakarta.

Ekspansi bisnis

Hamzah membangun House of Raminten dengan harapan, ia tidak hidup kesepian setelah pensiun. Dengan adanya restoran ini, Hamzah masih memiliki kegiatan untuk menyibukkan diri. Dia ingin agar di masa pensiun ini dapat melakukan hal-hal yang ringan dan disukainya.
Lokasi House of Raminten berada di pendopo, tempat Hamzah latihan menari. Dan, awalnya menu yang ditawarkan hanya mi instan dan sejenisnya
Nah, dari sekadar ingin memiliki kesibukan, kini House of Raminten justru berkembang pesat. Dengan jumlah karyawan mencapai 82 orang, House of Raminten ramai dikunjungi pembeli. Buka selama 24 jam, restoran ini menawarkan menu andalan nasi kucing dengan harga Rp 1.000 per porsi.
Selain itu, resto juga menyediakan juga nasi putih, oseng tempe, serundeng dan teri. Rata-rata harga makanan di House of Raminten sekitar Rp 10.000 dan termahal Rp 20.000 per porsi.

Lantaran sudah besar, pengelolaan restoran kini diserahkan kepada anak angkat yang menjadi kepercayaan Hamzah. Suasana restoran pun dibuat seperti Yogyakarta mini, ada kereta kencana dan dokar. Dengan suasana ini, jumlah pengunjung terdongkrak. Dalam semalam pemasukannya mencapai Rp 1,5 juta.
Karyawan restoran ini bukan berasal dari kalangan profesional. Sebab, yang menjadi pelayan kebanyakan adalah karyawan lama Hamzah di Mirota Batik. Tugas mereka melayani dan menyajikan makanan pesanan para pembeli. (bn/dari berbagai sumber)