Ciputra News



jasa

Banner
Banner
Banner
Bisnis
Tony Tyler, Meraup Untung dari Kontrak Fuel-Hedging PDF Cetak E-mail
Kamis, 18 Maret 2010 10:19
Sanggup mempertahankan bisnis di kala krisis ekonomi global, itu sudah luar biasa. Apalagi bila mampu mencetak laba tatkala banyak perusahaan lain ambruk. Karena itu, CEO Cathay Pacific Tony Tyler layak mendapat acungan jempol. Dia membawa salah satu maskapai terbesar di Asia itu menorehkan untung 812 juta dolar Hong Kong pada semester pertama tahun ini. Prestasi ini membanggakan karena pada periode yang sama tahun lalu, Cathay Pacific justru membukukan rugi 760 juta dolar Hong Kong.

TonyTyler_001Apa resep sukses Tyler? Dia mengakui, keuntungan yang mereka cetak banyak dipengaruhi oleh sejumlah kontrak fuel-hedging untuk melindungi maskapai itu dari perubahan harga minyak yang sangat cepat dan labil. Cathay Pacific mendapatkan keuntungan dari kontrak semacam itu pada semester pertama tahun ini, dibandingkan kerugian dari kontrak itu tahun lalu.

Pengamat memperkirakan, Cathay akan tetap mencatatkan keuntungan jika harga minyak tetap di level USD75 per barel selama tiga tahun ke depan. Pendapat pengamat itu kian membuat Tyler yakin bahwa maskapai yang dipimpinnya akan kembali menorehkan keuntungan tahun depan. Apalagi saat ini harga minyak mentah telah turun 50 persen ke level USD72 per barel, dari USD145 per barel pada Juli tahun lalu. Meski saat ini keuntungan Cathay banyak dipuji, Tyler menganggap tantangan di depan belum surut. Apalagi saat ini jumlah penumpang pesawat mengalami kecenderungan berkurang akibat krisis ekonomi global.

"Industri penerbangan global yang telah diguncang kenaikan harga bahan bakar minyak pada 2008, dan kini menghadapi salah satu kendala paling besar dengan menurunnya jumlah penumpang," kata Tyler. Tyler menunjukkan, ada sinyal bahwa penurunan tingkat permintaan itu telah mencapai dasar terendah. "Namun belum ada indikasi jika peningkatan permintaan akan mulai terjadi. Kami tetap menghadapi kondisi lapangan yang sangat menantang.

Angka pendapatan terbaru kami menunjukkan fakta yang jelas bahwa kita tetap memiliki sejumlah cara untuk keluar dari lubang dalam ini," paparnya. Pada 25 Juli pendapatan dari penumpang Cathay sebesar 15,8 persen di bawah target tahun ini. Sedangkan pendapatan kargo 21,4 persen di bawah target.Berdasarkan laporan lalu lintas penumpang pesawat terbang, 1,7 juta penumpang telah diangkut oleh Cathay Pacific dan anak perusahaannya, Dragonair, pada Juni silam, turun 18,1 persen dari total penumpang pada 2008.

Karena ketatnya persaingan antarmaskapai, kebijakan diskon telah mengurangi pendapatan maskapai itu hingga 14 persen. Kekhawatiran Tyler itu diamini pengamat dunia penerbangan sipil Winson Fong dari SG Asset Management. "Pendapatan penuh tahunan akan bergantung pada penumpang premium. Pendapatan dari kontrak fuel-hedging sebenarnya bukan suatu patokan yang bisa digunakan untuk mengevaluasi kinerja perusahaan," tuturnya.

Tyler mengaku masih melihat awan kelabu di masa depan itu terkait penurunan jumlah penumpang." Jika tanda pemulihan tidak tampak juga dalam industri penerbangan, Cathay Pacific bisa tidak terlihat dari berbagai menara Bandara Hong Kong. Saya tidak pernah melihat situasi buruk di industri penerbangan dalam 30 tahun terakhir seperti saat ini. Jujur, saya ragu bahwa ini bisa seburuk ini," katanya.

"Sebagai maskapai, kami menghadapi kombinasi berbahaya di depan seperti labilnya harga minyak dan krisis keuangan internasional yang tampaknya belum ada tanda akan berakhir," papar pria yang didapuk sebagai pimpinan baru International Air Transport Association ini. Untungnya,Tyler masih mendapatkan angin segar dari kinerja Cathay di Australia. Dalam 12 bulan terakhir, kinerja maskapai dengan tujuan Sydney,Perth, Cairns, Melbourne,dan Brisbane itu cukup baik.

"Australia merupakan pasar yang bagus dan selalu akan seperti itu. Kami menganggap Australia sebagai bagian dari halaman belakang kami.Terutama untuk jalur penerbangan kami pulang pergi Sydney-Hong Kong," ujarnya.

Apalagi dengan maraknya wabah flu babi lintas negara yang sebagian ditularkan melalui orangorang yang melakukan perjalanan dengan pesawat dari negara yang terkena wabah. Dia menilai wabah flu babi ikut memengaruhi pendapatan maskapai lintas negara.

"Maskapai kami menghadapi penurunan jumlah penumpang, terutama di Asia Utara,Jepang,China, dan sebagian Asia Tenggara,akibat penyebaran wabah virus A (H1N1). Namun, dampak itu mulai berkurang pada Juli 2009," katanya. Namun, tambah dia, dampak wabah flu babi itu pada industri maskapai mulai berkurang bulan ini. Kini pemimpin maskapai terbesar di Hong Kong itu terus mempertahankan kapasitas layanan penumpang ke Amerika Utara. Apalagi perkembangan maskapai itu cukup bagus di sana. "Kami terus mempertahankan kapasitas saat ini dan jika ada perubahan, itu berarti peningkatan layanan," ujarnya.

Dia memutuskan untuk tidak mengikuti langkah Malaysia Airlines yang menghentikan layanan tiga kali sepekan untuk perjalanan dari Kuala Lumpur ke New York yang melintasi Stockholm mulai Oktober mendatang karena rendahnya tingkat permintaan. "Kami saat ini telah mengurangi kapasitas ke Amerika Utara pada tahun lalu ke beberapa kota, tapi tidak untuk tujuan ke San Francisco,Vancouver, Los Angeles, dan New York," katanya pada pertengahan bulan lalu saat peluncuran kelas bisnis dan first class lounge yang baru di Kuala Lumpur International Airport (KLIA), Malaysia.

Ruang tunggu baru seluas 370 meter persegi itu dapat menampung 94 penumpang.Ruangan itu dilengkapi akses Wi-Fi dan broadband serta menawarkan berbagai menu khas Asia dan Barat. Bagi Tyler, peluncuran lounge baru di KLIA itu membuktikan komitmen Cathay Pacific untuk berinvestasi dan meluarkan bisnisnya di Malaysia. "Ini juga menunjukkan komitmen kami untuk menyediakan pelayanan kualitas tinggi pada pelanggan kami di setiap tujuan perjalanan mereka bersama kami," tuturnya.

Selain di KLIA, Tyler juga meluncurkan lounge baru di Penang Airport pada Februari silam. "Kami telah membuat komitmen untuk melanjutkan berinvestasi untuk brand dan pelayanan kami karena kami yakini ini yang membuat Cathay Pacific berbeda dan akan membantu menjamin kelanjutan sukses kami di masa depan," papar Tyler. (Sindo)
 
«MulaiSebelumnya301302303304305306307308309310BerikutnyaAkhir»

Halaman 301 dari 351
Copyright © 2013 Ciputra Entrepreneurship
Mobile Version