Thorsten Gerhard Heins telah resmi didapuk sebagai CEO baru RIM memggantikan duo CEO terdahulunya yakni jim Balsille dan Mike Lazaridis. Bagi perusahaan asal Kanada itu, Heins bukanlah sosok baru. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Chief Operating Officer (COO).
Sama dengan para eksekutif di jajaran RIM, sosok Heins juga jarang diekspos dan jauh dari kabar media sebagai public figure. Selain profil minim di LinkedIn dan situs RIM, dia memiliki sedikit bukti keeksistensiannya di dunia maya, termasuk tak memiliki Facebook page atau Twitter feed.
Sebelum hijrah ke RIM, Heins bekerja di Siemens sejak tahun 1984. Berdasarkan blog resmi BlackBerry dan BusinessWeek seperti yang dilansir dari laman Washington Post, Selasa 24 Januari 2012, Heins mulai berkarir di Siemens di bagian Research & Development, kemudian dipercaya untuk menjabat sebagai general manager untuk beberapa bidang unit termasuk salah satunya unit aplikasi mobile.
Di Siemens, Heins juga berkesempatan menghabiskan waktu empat tahun untuk mengawasi infrastruktur wireless di AS. Ketika meninggalkan Siemens, dia menjabat sebagai Chief Technology Officer untuk bidang komunikasi.
Setelah bergabung dengan RIM pada 2007, Heins memiliki tanggung jawab sebagai Senior Vice President untuk divisi BlackBerry Handheld. Setelah itu jabatannya beralih menjadi COO Product Engineering dan pada Juli 2011, ia mengisi posisi COO Product and Sales.
Mengantongi titel master untuk bidang fisika dari University of Hanover di Jerman, Heins adalah sosok berlatar belakang teknik yang memiliki ciri khas sendiri tak seperti dua orang mantan CEO terdahulunya, Balsillie—yang bergelar MBA dari Harvard—dan Lazaridis—yang mengabdi sebagai CEO di RIM sejak ia mendirikannya pada tahun 1984. Hal itu banyak dipengaruhi oleh pengalamannya yang tak singkat ketika meniti karir di sebuah perusahaan telekomunikasi yang sudah mapan.
Berbicara mengenai masa depan perusahaan yang kini dipimpinnya itu, strategi Heins dinilai tergolong konservatif. Pria berusia 54 tahun ini lebih menekankan pada proses “evolusi” dibanding perubahan drastis walau menyatakan bahwa RIM harus segera keluar dari “peran sebagai startup”.
Alih-alih luncurkan strategi yang bisa memberi perubahan besar bagi RIM, ia malah menaruh perhatian pada marketing serta melakukan pemisahan tajam antara membuat prototipe dengan memproduksi produk yang sesungguhnya. “Terkadang kita berinovasi terlalu banyak ketika kita menciptakan produk,” jelasnya di tengah-tengah pengumumannya sebagai CEO baru RIM.
Dilansir dari Bloomberg, Senin 23 Januari 2012, Heins akan bertugas sebagai CEO secepatnya dan dihadapkan pada sejumlah tantangan serta persaingan dalam industri smartphone berbasis sistem operasi yang begitu ketat. Tak hanya berjuang melawan dominasi Android milik Google dan iOS milik Apple, Heins juga harus mampu menggeser pengaruh Microsoft yang telah menjalin kerja sama dengan beberapa vendor seperti Nokia dan AT&T untuk turut unjuk gigi di pasar smartphone. Para pengamat dunia teknologipun berharap dengan kedisplinannya, Heins mampu membawa perubahan positif bagi RIM. Semoga. (*/ely)