Raut wajahnya khas perempuan Tibet. Namun dia adalah perempuan Tibet yang cukup sukses di bisnis farmasi, dengan total aset senilai US$1,1 miliar.
Pada 1993, Lei Jufang mendirikan perusahaan farmasi Qizheng Tibetan Medicine Group, yang memproduksi salep, koyok, dan obat bubuk untuk menghilangkan rasa sakit dan masalah pernapasan.
Kelompok farmasi nasional tersebut menggabungkan penelitian ilmiah, manufaktur, dengan distribusi. Kelompok itu memiliki sepuluh anak perusahaan, termasuk tiga apotek bersertifikat GMP, satu lembaga penelitian, dan dua perusahaan operasi GSP. Saat ini, perusahaan tersebut memperkerjakan lebih dari 900 karyawan.
Pengobatan Tibet merupakan bagian penting dari tradisi medis China, dan telah berkembang selama nyaris 3.000 tahun. Sejak abad ketiga SM, sebuah sistem medis primitif di dataran tinggi Qinghai-Tibet, terdiri atas teori tentang kehidupan sehari-hari, makanan dan minuman, serta perawatan kesehatan.
Pengobatan tradisional Tibet didasarkan pada budaya Tibet, yang menggabungkan ilmu kehidupan (kombinasi dari langit, bumi, dan manusia) ke dalam teori-teorinya. Pengobatan tradisional Tibet berbeda dari tradisi medis kelompok etnis lain dan pengobatan modern.
Selama ribuan tahun, pengobatan Tibet yang misterius masih tertutup dan tidak diketahui masyarakat umum. Setelah China mengadopsi kebijakan reformasi ekonomi pada 1978, obat-obatan tradisional Tibet mulai berkembang pesat. Pusat-pusat penelitian didirikan di Tibet, Qinghai, Gansu, dan Sichuan. Berbagai rumah sakit tingkat provinsi, dan fasilitas produksi farmasi juga didirikan di Tibet dan Qinghai. Saat ini, Qinzheng Tibetan Medicine Group berada di garis depan industri obat Tibet.
Sebelum mendirikan perusahaan farmasinya, Lei berprofesi sebagai seorang teknisi di Lanzhou Institute of Modern Physics di bawah Chinese Academy of Sciences. Awalnya, lulusan Xi'an Jiangtong University ini sama sekali tidak pernah bersinggungan dengan pengobatan Tibet.
Pada 1987, Lei mengundurkan diri dari pekerjaannya di institut dan mendirikan perusahaan sendiri, Industrial Pollution Institute of Lanzhou. Di awal 1990-an, Lei dan mitra bisnisnya berpisah dan menapaki jalan masing-masing. Tidak yakin dengan apa yang akan dilakukan selanjutnya, dia memutuskan untuk pergi ke Tibet dengan harapan menemukan kedamaian dalam kesendirian.
Di sana, Lei menemukan bahwa budaya dan cara hidup di dataran tinggi Tibet menarik hatinya. Meski kehidupan yang dijalani rakyat Tibet itu keras, aura yang mereka pancarkan tetap damai dan harmonis.
Ketenangan di tengah kesulitan mereka itulah yang menginspirasi Lei untuk menyebarkan pola pikir Tibet yang berfokus pada kedamaian batin. Perempuan yang kini berusia 58 tahun itu, juga menemukan khasiat penyembuhan dari herbal dan mineral yang berlimpah di dataran tinggi tersebut.
Pada 1993, Lei menginvestasikan dana sebesar 10 juta yuan untuk mendirikan Lingchi Qizheng Tibetan Pharmaceutical Factory di Lingchi Prefecture. Usaha ini berbuah sukses dengan sangat cepat. Enam tahun kemudian, keuntungan tahunan dari penjualan obat Qizheng Tibetan mencapai satu juta yuan.
Menurut kacamata Lei, Tibet memiliki posisi unik dalam sejarah dunia dan pembangunan manusia. Tapi, pesonanya hanya dapat dihargai sepenuhnya di seluruh dunia, ketika ilmu pengetahuan dan teknologi diterapkan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi lokal.
Pada 1999, obat-obatan Qizheng Tibetan memeroleh medali emas di pameran internasional ke-26 yang diselenggarakan di Jenewa. Setelah menerima penghargaan ini, Lei mengatakan pengobatan Tibet akan setenar Gunung Everest, sebagai simbol Negeri Atap Dunia itu. (*/MI)