Move
Close
Lupa nama pengguna?
Lupa Password?
Pendaftaran
jasa
Banner
Banner
Nasional
Keramahan Membawa Berkah PDF Cetak E-mail
Jumat, 03 Februari 2012 14:22
Keramahan Bu Rudy ternyata bukan isapan jempol. Usai menggoreng tahu, Bu Rudy beranjak masuk ke toko menuju depot makan yang terletak di bagian paling belakang. Dari meja ke meja, Bu Rudy menyapa pelanggannya dan mengajak ngobrol seputar makanan yang dipesan. Tak lupa juga menawarkan minuman kesehatan yang dijual di tokonya.

burudyJika ada yang bersisa di piring sang pelanggan, Bu Rudy pasti akan bertanya mengapa makanannya tidak dihabiskan. “Jual jasa seperti ini berat sekali. Harus siap di-complaint kapan saja,” tegasnya seperti dilansir Mix.co.id. Keramahan ini pasti juga sengaja ditularkan kepada para karyawan di tokonya yang tidak pernah lupa tersenyum kepada setiap pembeli.

Di Surabaya, depot makan Bu Rudy sangat dikenal dengan nasi udangnya. Sepiring nasi hangat, serundeng, empal suwiran serta udang kecil-kecil yang dibalut tepung kering dan digoreng garing. Cocok dipadukan dengan sambal bawang putih khas Bu Rudy yang pedasnya menggigit.

Sambal inilah yang membuat nasi udang Bu Rudy berbeda dengan rumah makan lain. Satu piring nasi udang empal dijual dengan harga Rp14.000. Sangat terjangkau bahkan oleh kantong pegawai kantor dengan gaji pas-pasan. Di luar itu tentu banyak variasi menu Jawa Timuran yang dijual dalam paket harga Rp14.000-Rp18.000. “Prinsip saya, tidak usah untung banyak tapi tidak pernah rugi,” tegas wanita 53 tahun ini.

Selain makanan utama, terdapat juga ratusan jenis makanan kering pasokan sekitar 300 orang supplier seperti menggoda untuk dimasukkan ke dalam keranjang belanja para pelancong. Di antara ratusan jenis produk oleh-oleh kering, Bu Rudy menyelipkan paket udang goreng dan sambal botolan sebagai produk unggulan yang bisa dibawa pulang.
Toko oleh-oleh ini justru menghasilkan omzet paling besar. “Lha, kalau orang makan di depot kan paling banyak habis Rp50.000. Tapi kalau beli oleh-oleh rata-rata sekitar Rp200-300 ribuan,” jelasnya.

Sebagai oleh-oleh, sambal bu Rudy memiliki ciri khas dengan tingkat kepedasan yang sangat menggigit. “Ada yang memberi testimoni setelah makan sambal bu Rudy rasanya seperti habis ditempeleng,” terangnya. Namun justru, ternyata, sambal seperti itulah yang selalu dicari orang.

Yah, Bu Rudy memang serupa seniman kuliner. Ketika memasak, ia mengibaratkan dirinya tak ubahnya pelukis. “Tidak pake belajar atau nyontoh dari buku-buku. Saya setengah mati senang sama kerjaan ini sehingga Pak Rudy (suaminya—Red) pun tidak bisa melarang saya,” ujarnya sambil tertawa lepas.

Karena merasa benar-benar dikerjakan dari hati, Bu Rudy mengaku sampai saat ini tidak tergoda untuk mem-franchise-kan bisnisnya. Alasannya, jika diwaralabakan ia pasti harus bekerja lebih keras dan tidak ada jaminan terhadap kualitas produk. “Kalau yang beli restoran ini orang kaya yang tidak bisa merawat, kualitas dagangan saya bisa turun. Apa iya orang itu akan turun langsung ke dapur,” begitu argumennya.

Dalam sehari bu Rudy mengaku bisa menjual 2.000-3.000 botol sambel dengan kebutuhan bahan baku sekitar 200 kg cabe per hari. Seluruh produk itu dipasok ke seluruh cabang, termasuk yang ada di Jakarta. Di Jakarta saja, setiap minggu ia mengirim 500-1000 botol yang bisa habis cuma dalam waktu 5 hari.

Depot pertama Bu Rudy berada di kawasan Jalan Darmahusada. Setelah itu ia membuka cabang di Kupang Indah dan Pasar Atom Mall Surabaya. Setahun terakhir, Bu Rudy juga membuka cabang di Jakarta yaitu di kawasan Kelapa Gading dan Kebayoran Baru.
 
«MulaiSebelumnya12345678910BerikutnyaAkhir»

Halaman 1 dari 163
Copyright © 2010-2012 Ciputra Entrepreneurship
All right reserved