Didiek Hadjar Berhasil Kembangkan Kloning White Tea
Jumat, 10 Mei 2013 12:28
Jika dikelola dengan tepat, lembaga riset ternyata bisa menghasilkan pendapatan ratusan miliar rupiah. PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) mungkin bisa jadi contoh. Tahun lalu, perusahaan berbasis riset ini mampu membukukan pendapatan sebesar Rp 700 miliar. Dan tahun ini, pendapatannya ditargetkan tumbuh 7% jadi Rp 750 miliar.
Tentu saja, keberhasilan RPN tak lepas dari tangan dingin Didiek Hadjar Goenadi. Di bawah kepemimpinan pria kelahiran 4 April 1958 ini, berbagai produk inovatif berhasil diciptakan RPN. Salah satunya adalah white tea, klon teh Gamboeng. Teh yang memiliki khasiat menjaga kekebalan tubuh dan anti terhadap serangan flu burung ini dipasarkan dengan harga Rp 1 juta per kilogram.
RPN adalah transformasi dari Lembaga Riset Perkebunan Indonesia (LRPI), warisan Belanda. Kini, perusahaan berkantor di Bogor itu mengelola lima pusat penelitian berbasis komoditas. Yakni Pusat Penelitian Kelapa Sawit di Medan, Pusat Penelitian Teh dan Kina di Gambung, Pusat Penelitian Gula di Pasuruan, Pusat Penelitian Karet di Bogor dan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao di Jember.
LRPI menjelma menjadi RPN sejak 2009. Sementara Didiek sendiri bukan orang asing lagi di perusahaan riset ini. Maklum, sejak lulus dari jurusan Ilmu tanah Institut Pertanian Bogor (IPB) pada 1981, ia mengabdikan diri di perusahaan riset ini.
“Saya diminta memimpin di akhir 2011 dengan nama yang sudah berubah menjadi RPN,” ceritanya kepada inilah.com
Bagi Didiek, tidaklah mudah memimpin sebuah perusahaan riset. Maklum, yang diurusi Doktor lulusan University of Georgia, Athens, Georgia, Amerika Serikat ini adalah manusia dan tanaman. “Ini bukan pabrik. Mereka adalah benda hidup, manusia dan tanaman, sehingga memerlukan perjuangan yang khusus untuk membangkitkan motivasi dan semangat agar kita bisa Mandiri dari sisi keuangan yang selama ini banyak disuplai dari yang lain.”
Sebagai sebuah perusahaan riset, Didiek dituntut untuk menghasilkan inovasi teknologi dan melakukan layanan jasa kepada para pelaku industri.Karena itu, Didiek dan 8.000 karyawan RPN giat menciptakan produk yang dibutuhkan para pelanggannya. Di antaranya pupuk hayati yang bisa mengurangi penggunaan pupuk kimia hingga 25%. Selain itu ada bio the composser yang digunakan untuk mempercepat pengomposan.
Sekaya Pengusaha
Hasil karya RPN lainnya, ya itu tadi, white tea. Rencananya, produk hasil kerjasama RPN dengan PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I hingga XIVini akan diproduksi secara besar-besaran dan dipasarkan ke mancanegara. “Nantinya, Indonesia akan dikenal sebagai penghasil white tea, bersanding dengan ocha tea dari Jepang dan long tea dari Cina,” ujar penggemar olah raga bersepeda ini.
Jika rencana itu terlaksana, boleh dibilang ini akan menjadi sejarah baru bagi RPN. Soalnya, selama ini pasar RPN meliputi 40% di BUMN Perkebunan, 3% swasta dan 25% untuk para petani. Kendati sebagian besar pasarnya BUMN, namun Didiek tak mau setengah-setengah. “Apabila pelanggan puas, mereka akan kembali lagi menggunakan jasa RPN,” katanya.
Keseriusan RPN dalam melayani konsumennya terbukti dengan dipakainya hasil ciptaan RPN oleh sejumlah perusahaan. Sebagai pemegang hak paten, RPN mendapatkan royalti. Hebatnya, Didiek mendapat bagian dari royalti tersebut. “Royalti itu dibagi antara saya dengan kantor. Makanya, saya bisa sama kaya dengan pengusaha,” katanya.
Pantas memang jika Didiek mendapat sebagian dari hasil karyanya. Setiap tahun, perusahaan yang dikelolanya mampu memberikan pemasukan hingga ratusan miliar rupiah kepada pemerintah. “Karena dikelola dengan tepat, kami sudah menghasilkan ratusan miliar untuk menghidupi kami. Tinggal kami menjalankan kinerja kami secara amanah, dibekali ilmu, teknologi dan aset.”
Tetapi Didiek tidak sendirian. Di bawahnya ada ribuan karyawan, yang menurutnya, juga harus sejahtera. Makanya, untuk menjadikan RPN sebagai perusahaan riset yang menguntungkan, ia dan seluruh karyawan RPN tidak bisa berleha-leha. Mereka harus bekerja keras untuk menciptakan produk inovatif yang dibutuhkan oleh pasar.
Bagi seorang peneliti, mengelola lembaga riset menjadi sebuah perusahaan yang menguntungkan memang bukan pekerjaan ringan. Tapi Didiek berhasil menjadikan RPN sebagai perusahaan riset yang setiap tahunnya menghasilkan omzet ratusan miliar rupiah. “Bila RPN ingin maju dan mendapat hasil sesuai target, kami harus bekerja keras,” katanya.
Karier Didiek di bidang riset boleh dibilang cukup cemerlang. Di usianya yang ke-37, ia sudah menduduki jabatan fungsional di Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia.Sebelum menjabat Direktur Utama PT Riset Perkebunan Nusantara, Didiek pernah menduduki jabatan sebagai Direktur Eksekutif LRPI sejak 2002 hingga 2007.
Satu hal yang tidak berubah dari Didiek adalah kecintaannya terhadap ilmu pertanahan. Gelar SI hingga S3 diraihnya di bidang Ilmu tanah. “Saya memang tidak bisa pindah ke lain hati,” katanya, tertawa. (bn)