Ivan Gouw: Besarkan Jaringan Ritel Global Elektronik
Hits : 974
Minggu, 08 Juli 2012 15:41
Bagi Ivan Gouw, ketelitian melihat peluang bisnis tiap hari jadi semangatnya nikmati kesempatan baru. Superstore Global Elektronik tak lepas dari predikat "Sang pelopor modern ritel elektronik" di Semarang, Jawa Tengah. Ivan Gouw memiliki impian yang diberi nama "Dreaming a Vision 2027" yaitu merambah unit usaha strategis yang berkonsentrasi di Jawa Tengah dan DIY.
Efisiensi dengan rampingnya jajaran managemen tak mengecilkan hatinya untuk melakukan perubahan strategis dari divisi keamanan hingga ke divisi internal kontrol. Membangun kebiasaan baru yaitu ‘MONDAY Report’ selalu dilakukan di ruang kerjanya. Ia percaya koordinasi jadi nyawa berikan sinergi hubungan baik. "Laporan yang masuk belum tentu sempurna dan membuahkan hasil strategi diubah ternyata dengan mendengar ide dan masukan karyawan mampu efektif jalankan perusahaan sehari hari lebih baik," kata Ivan.
Sebagai operational director sebuah jaringan ritel elektronik di Jawa Tengah dan DIY, Ivan hati-hati dalam memegang kendali perusahaan. Ia suka berkeliling ke semua gerai Superstore Global Elektronik untuk senantiasa melihat langsung pekerjaan-pekerjaan di lapangan. Ketika berada di lapangan pun, Ivan suka datang diam-diam. Ia kerap tampak akrab dan nyaman dengan para pengunjung. Dari sini ia merasa bisa mengambil jarak. Dan dari jarak itulah ia melihat sisi terang dan buram dari sebuah toko.
Suburnya pertumbuhan ini ditopang beberapa hal, di antaranya, situasi politik dan ekonomi dalam negeri yang nyaman, penduduk Indonesia nomor empat terbesar di dunia sehingga potensi pasar sangat besar. Lalu kita pun tahu golongan menengah tumbuh signifikan. Ada pula perubahan gaya hidup masyarakat yang mengarah pada gaya hidup ke ritel modern. Perkembangan terkini pun dapat ia serap dengan leluasa. Ivan rajin membaca dan menyelisik keadaan pasar agar ia dapat mengemudikan gerainya dalam posisi yang sangat baik. Bisnis ritel memang tumbuh subur, dan tentu ini sungguh merupakan sinyal positif.
Konsentrasi ritel modern masih di Pulau Jawa (65 persen). Lalu, ada data yang mengungkapkan bahwa di Indonesia, satu juta jiwa penduduk dilayani 40 ritel modern. Sebagai perbandingan, di Singapura, satu juta penduduk dilayani 150 ritel modern. Begitulah, ritel masih sangat berprospek, pasar masih terbuka amat lebar, terutama di daerah-daerah, termasuk kantong-kantong dengan sumber daya alam berlimpah.
Bagi Ivan, Indonesia mesti menyiapkan diri sebaik-baiknya menghadapi era ini. Kalau tidak bersiap, Indonesia akan menjadi penonton saja. "Kami sendiri menyiapkan diri dengan baik, misalnya dengan memperbaiki sistem, jaringan, kesiapan sumber daya manusia, alih teknologi, dan sebagainya. Kami secara bersama sama menyiapkan diri dengan seksama, di antaranya dengan lebih kuat memasarkan produk-produk produksi pemasok elektronik dari dalam negeri dan luar negeri," ujarnya.
Kami mampu bekerja efisien, di antaranya karena jam terbang, infrastruktur yang terjaga, armada yang komplet, jaringan yang lengkap serta sistem distribusi yang efektif. Namun, kami tidak puas hanya sampai di situ. Kami terus berbuat untuk meraih puncak efisiensi. Ritel adalah bisnis dengan margin amat tipis. Ikut dalam divisi pengiriman adalah langkah pertama yang Ivan lakukan dalam pembenahan internal. Pelayanan harus prima dan pengiriman yang on time serta layanan purna jualpun tak luput dari bidikannya. "Saya mendekatkan diri lakukan diskusi intensif selalu menggunakan seragam kantor hilangkan gap yang besar antara bawahan dan atasan merupakan strategi yang jitu," katanya lebih lanjut.
Potensi bisnis yang menjanjikan dengan jumlah penduduk Indonesia yang sekitar 240 juta jiwa membuat industri elektronik akan terus bertumbuh. Hal tersebut menjamin roda bisnis perusahaan bergerak lebih cepat dan mendatangkan keuntungan. Kepekaan dan kemampuan mengadopsi perkembangan terkini untuk bisa mengembangkan pasar. Kondisi perekonomian Indonesia dipandang terus membaik dan sebagian kalangan memprediksi bahwa dalam kurun dua hingga tiga tahun mendatang akan terjadi peningkatan jumlah penduduk kelas menengah.
Berdirilah Superstore Global Elektronik pada tanggal 9 Oktober 2002 dengan konsep belanja yang sangat baru: "Simple Shopping Electronics". Sang ayah meminta dukungan kepada vendor elektronik untuk membangun stand dan booth di toko pertama Jl. MT. Haryono 509A mereka tanyakan dengan dingin, "Toko baru bisa beli berapa banyak barang?" Merintis tekun usaha ayahnya membuahkan hasil dimana sejak 2003 hingga saat ini menjadi market leader di kota Semarang. Memenangkan persaingan pasar, memiliki omzet penjualan besar agar mendapat kuantitas diskon, kuantitas diskon ini bisa diberikan kepada pelanggan, akan memenangkan harga jual.
Toko jenis ‘Papa Mama Store’ dan ‘Wholesale’ kala itu barang ditaruh begitu saja, berdebu, kotor dan gelap dan dilayani pemilik sendiri. Kemudian hari wholesale atau grosir akan mati dengan sendirinya bersama jaringan distribusi dari vendor elektronik yang masuk ke pelosok kabupaten kota. Global Electronik memperkenalkan pertama dengan konsep modern ritel elektronik, ruang displai produk yang rapi, bersih, terang dan mengunakan AC, dengan harga yang tertempel dan kompetitif, dukungan pelayanan toko menjadi sangat ramai, penjualan kredit yang bekerja sama dengan perusahaan pembiayaan kredit elektronik dan perbankan dengan cicilan ringan saat itu kami yang pertama menjalin kerjasama dengan anak usaha GE Finance dari Amerika Serikat yang berkantor di Menara Batavia kala itu.
Usia muda adalah tantangan dari generasi pertama di mana tentu memiliki pemikiran yang konvensional. Ide dan keinginannya akan toko baru akhirnya jaringan gerai ke-3 bisa terwujud. Hitung dan timbang adalah penghambat utama dalam jalankan suatu usaha. "Lokasi yang tepat dan segmen pasar yang mau dibidik jadi perhatian utama," tandasnya. (*AP)