Bagi sebagian orang, memulai sebuah langkah untuk usaha bisa dilandasi dari bermacam motivasi, Ada yang berniat sungguh-sungguh untuk menjadi pebisnis tapi tak jarang pula ada yang sekadar coba-coba. Heksa Rini, pemilik Markas'e Hot Plate, masuk dalam kelompok terakhir.
Maklum saja, saat mengawali bisnisnya di bidang kuliner, wanita yang akrab dipanggil Heksa itu masih berstatus karyawan di bagian keuangan sebuah perusahaan swasta. Kala itu Heksa menyadari bahwa dia harus memiliki ‘sumber penghasilan’ yang bisa menjadi penopang ketika ia sudah purna dari pekerjaannya nanti. Dari sinilah dia kemudian berniat merintis sebuah usaha, dan bidang kuliner adalah pilihannya.
"Awal saya membuka Markas'e Hotplate, Sebenarnya hanya coba-coba. Untung ya alhamdullilah kalaupun rugi tak ada masalah karena pada saat itu pekerjaan yang saya dan suami tekuni sudah cukup kalau hanya untuk menyambung hidup sehari hari," terangnya.
Saat ditanya mengapa memilih usaha di bidang kuliner, Heksa menjawab dengan singkat, menurutnya makanan tetap menjadi kebutuhan primer yang akan selalu menjadi buruan setiap orang apalagi ditambah dengan prospek bisnis kuliner yang masih akan berjaya untuk ke depannya.
Selanjutnya terang Heksa, yang menjadi tantangan tersendiri dalam berbisnis kuliner adalah bagaimana caranya agar produknya bisa ‘tampil beda’ atau punya keunikan dibanding produk yang lain sehingga loyalitas pelanggan dapat terjaga. Untuk itulah Heksa memilih hotplate sebagai sarana diferensiasi tersebut. Diferensiasi, adalah strategi di mana produk kita memiliki perbedaan maupun keunikan dibandingkan dengan produk yang lain.
Diferensiasi akan membuat produk atau jasa kita lebih melekat di benak konsumen. Sebagai informasi, perbedaan yang ada pada produk maupun jasa kita, akan membuat konsumen lebih mudah untuk mengingat produk atau jasa yang kita pasarkan karena adanya point of interest yang kita miliki, yaitu keunikan yang tidak dimiliki oleh produk atau jasa yang lain.
"Saya rasa pelaku usaha yang memakai hotplate sebagai pelengkap penyaji makanan yang dihidangkan masih sangat minim maka dari itu saya berusaha mengembangkan pemakaian hotplate tersebut. Yang ingin saya ubah di sini adalah image bahwa makanan yang dihidangkan dengan hotplate adalah makanan yang mahal dan tidak bisa dijangkau," ujarnya menerangkan. Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian.
Melihat prospek bisnisnya yang begitu besar ke depan akhirnya di saat cabang ketiga di buka di salah satu mal di Surabaya ia memutuskan untuk resign dari pekerjaannya dan fokus terhadap bisnisnya tersebut. Terbukti dengan ketegasannya tersebut counter miliknya makin berkembang di beberapa mal yang ada di Surabaya. (*/Surabaya Post)