Ciputra News



jasa

Banner
Banner
Banner
women-section
Sepatuku Baru Fokus Produksi Sepatu Custom Hits : 1519 PDF Cetak E-mail
Selasa, 26 Juni 2012 11:36

Arlita Bersama Sang Suami, Bagus

“Dulu waktu zaman kuliah saya susah mencari sepatu. Kebanyakan harus bikin custom karena kaki saya panjang,” begitu cerita Arlita mengawali kisah perjalanan usahanya yang diberi nama Sepatuku Baru.

 

Terinspirasi dari pengalaman pribadinya itu, Arlita melihat besarnya peluang bisnis sepatu custom hand made ini. Awalnya ia menggandeng salah seorang koleganya yang memproduksi sepatu. Arlita  yang mencari pasarnya, sedangkan rekannya yang memproduksi sepatu tersebut.

 

“Tapi karena sudah beda tujuan akhirnya kami buat kesepakatan, saya mau lepas dan produksi sepatu dengan merek saya sendiri di tahun 2008,” kenang Arlita saat ditemui Ciputra Entrepreneurship beberapa waktu lalu.

 

Untuk memulai produksi Sepatuku Baru ini Arlita harus rela meninggalkan pekerjaannya sebagai Relationship Manager di salah satu Bank multinasional di Jakarta. Arlita dan sang suami, Bagus bergumul cukup lama untuk melewati masa ini. Bagi mereka, bukan keputusan sederhana untuk mengambil keputusan Arlita keluar dari pekerjaannya.

 

“Awalnya takut banget, kita sampai diskusi 1 bulan. Dan yang paling susah itu meyakinkan orang tua kita karena mereka khawatir bagaimana nanti kalau usahanya bankrut, bayar sekolah anak, dan kebutuhan lainnya,” cerita Bagus.

 

Padahal saat keluar dari pekerjaan itu Arlita dan Bagus baru saja memulai kredit rumah dan mobil. Kondisi Arlita yang bekerja di Bank memungkinkan mereka untuk mendapatkan privilege dalam pengajuan kredit, dimana mereka hanya dikenakan Bunga sebesar 2%. Privilege inilah yang membuat Arlita ragu untuk mundur dari profesinya.

 

Setelah mengambil keputusan resign Arlita memulai hari barunya dengan penuh ketidak pastian. Uang pesangon dari kantornya telah habis untuk modal awal membuka produksi sepatunya. Uang habis namun pesanan belum sesuai harapan. Rasa resah dan panik menyelimutinya di masa-masa awal berbisnis.

 

Untuk membuka bengkel sepatu ini Arlita dan Bagus menghabiskan setidaknya Rp 50 juta rupiah untuk sewa rumah dan pembelian alat-alat produksi. Mereka memilih sebuah rumah di satu kampung di daerah Serpong, Tangerang Selatan dekat rumah mereka untuk disulap jadi pabrik mungil.

 

Setelah semua terpenuhi ternyata kesulitan belum usai. Pasutri yang telah dikaruniai 2 orang anak ini kesulitan mencari tenaga yang ahli dalam produksi sepatu. Bagus sampai harus memasang iklan di berbagai media cetak untuk mendapatkan orang yang sesuai.

 

“Ternyata yang paling susah cari tukangnya. Hampir semua koran kita iklan, dalam semingu kita bisa habis Rp 1 juta cuma buat pasang iklan baris di koran-koran untuk cari tukang itu,” Kenang Bagus yang saat ini pun masih aktif bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi nasional.

 

Usaha tak kenal lelah yang dilakoni suami-isteri ini tak sia-sia. Setelah mendapatkan tukang yang sesuai dengan kriteria mereka orderan pun semakin meningkat. Hal ini diyakini Bagus selain karena promosi yang gencar lewat dunia maya, juga karena doa para pekerjanya.

 

“Pernah beberapa hari kita nggak ada orderan sama sekali, terus kita bilang sama mereka ’Pak doain ya, lagi sepi orderan nih’ ternyata benar, besoknya mulai ada pesanan lagi,” tuturnya.

 

Menurut Arlita, mereka sangat menjunjung tinggi rasa kekeluargaan dengan para pekerja di bengkel. Tujuannya tak lain adalah untuk menjaga kualitas Sepatuku Baru. “Mereka minta setrika, sampai param kocok ya kita belikan. Yang penting kualitas,” ujarnya. Saat ini ia dibantu oleh 7 orang pekerja. Lima orang bertugas memproduksi sepatu dan 2 orang lainnya menjadi tim penjualan Sepatuku Baru.

 

Berkat dari kenekatan, kerja keras, dan rasa menghargai sesama manusia ini, Sepatuku Baru  telah menuai  buah yang manis. Saat ini pelanggan Sepatuku Baru tak hanya datang dari individu yang ingin membuat sepatu custom tapi juga dari berbagai butik di Jakarta dan sekitarnya. Bahkan beberapa butik di daerah Kemang, Jakarta Selatan dan beberapa butik di pusat perbelanjaan terbesar telah menjadi kliennya.

 

Bagus dan Arlita mematok harga Rp 200 ribu hingga Rp 500 ribu per pasang sepatu. Harga tersebut disesuaikan dengan tingkat kesulitan dan bahan dari sepatu yang dipesan. Walau harga yang ditawarkan cukup tinggi namun mereka tidak khawatir akan tersaingi dengan produk lainnya.

 

“Sepatuku Baru menawarkan eksklusifitas karena dibuat sesuai permintaan pelanggan. Jadi pasti tidak pasaran,”ujar Arlita.

 

Angka penjualan yang semakin meningkat ini tak membuat fokus Arlita dan Bagus berubah. Sepatuku Baru tetap berfokus pada produksi sepatu kustom dan asli buatan tangan. Bahkan mereka pun sangat jarang membuat sepatu yang ready stock kecuali saat ada perayaan tertentu seperti Lebaran.

 

Bagus menuturkan, pernah ada salah satu department store menawarkan order tetap sebanyak 2 ribu pasang sepatu per minggu namun ia tolak. Alasannya, ia tak mau menurunkan kualitas sepatu kustom demi orderan tersebut.

 

“Mungkin satu saat kami bisa terima orderan partai besar seperti itu, tapi jelas terpisah dari Sepatuku Baru. Sepatuku Baru fokus untuk orderan kustom. Kalau orderan butik, kan jumlahnya juga terbatas, tidak partai besar jadi masih kami layani,” jelasnya.

 

Untuk mengantisipasi pemakaian nama Sepatuku Baru oleh orang lain, Bagus telah mematenkan nama nama usahanya tersebut di Kementerian Hukum dan HAM. Ke depan Arlita dan Bagus ingin mendirikan badan hukum untuk menaungi Sepatuku Baru. Namun soal badan hukum ini menjadi salah satu kendala Sepatuku Baru untuk maju.

 

“Bagi kami sekarang ini fase terberat, bagaimana Sepatuku Baru bisa maju. Kendalanya kalau mau mengajukan pinjaman usaha ke bank harus sudah berbadan hukum, tapi membuat badan hukum itu mahal sekali,” ungkap Bagus mengakhiri pembicaraan dengan Ciputra Entrepreneurship. (*/ian)

 


Another articles:


Comments  

 
0 #1 2012-08-06 01:02
Bisakah saya meminta contact yg bisa dihubungi ?

Karena saya sedang mencari produsen bengkel handmade shoes.

Terima Kasih.
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Gambar
Mary Kay Ash: Entrepreneur Wanita Paling Berpengaruh di Abad 20
  Lahir 12 Mei 1918, di Hot Wells, Texas, Mary Kay Ash meninggalkan tempat kerjanya setelah menyaksikan pekerja lain... Selanjutnya...
Gambar
Zhang Yin, Pelopor Bisnis Pengolahan Limbah
Zhang Yin, sukses mengembangkan industri limbah kertas menjadi industri besar dunia. Selain mempelopori di bisnis ini... Selanjutnya...
Gambar
Lima CEO Paling Cantik di Dunia
Syarat utama sebuah perusahaan bisa maju, ketika sang pemimpin memiliki kemampuan manajerial yang ciamik. Tidak peduli... Selanjutnya...
Gambar
Tinggalkan Google untuk Berbisnis Sendiri
Pada tahun lalu, Anastasia Leng memutuskan untuk meninggalkan kenyamanan hidup dengan bekerja di Google dan memulai... Selanjutnya...
Gambar
Aimi Duong: Jual Bantal demi Sejahterakan Perajin
Aimi Duong, salah satu pendiri bisnis bantal dengan misi perdamaian “Oimei Co” memancarkan semangat positifnya.... Selanjutnya...
Gambar
Rahasia Sukses Berbisnis dari Martha Tilaar
Setiap perempuan punya potensi untuk menjadi pemimpin dan menginspirasi. Asalkan ada kemauan, terus berusaha, dan... Selanjutnya...
Gambar
Strategi Dasar dalam Berbisnis Kuliner
Usaha kuliner adalah salah satu usaha yang tidak akan habis dimakan zaman, karena setiap waktu manusia membutuhkan... Selanjutnya...
Gambar
Inilah Resep Merintis Bisnis Mode
  Bisnis mode saat ini makin dilirik karena pasarnya yang cukup luas, terutama di Indonesia. Maklum, pakaian... Selanjutnya...
Gambar
Kunci Sukses Menjadi Mompreneur
Sebagai mompreneur, Anda memiliki dua pekerjaan penuh-waktu. Anda tidak hanya menjalankan bisnis sendiri tetapi secara... Selanjutnya...
Gambar
Tips Merintis Bisnis Busana Muslim
Busana muslim, kini menjadi bisnis mode yang dilirik karena pasarnya yang cukup luas, terutama di Indonesia. Semakin... Selanjutnya...
Copyright © 2013 Ciputra Entrepreneurship
Mobile Version