Keuletan Dian Septiawardani Mendaur Ulang Berbagai Bahan Bekas
Views :2577 Times
Jumat, 27 Agustus 2010 14:23
Senyum menghiasi bibir Dian Septiawardani ketika ditemui di outlet miliknya, Buncis Room di Jalan Kalimantan. Ia sedang sibuk mengerjakan pesanan undangan pernikahan sejumlah 500 eksemplar. Gadis manis lulusan Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta ini mengaku sedang menerima banyak pesanan wedding gift.
Niat untuk berwiraswasta ini awalnya tidak dilakukannya dengan serius. Iseng untuk mencari uang saku tambahan ketika menempuh kuliahnya di Jogja, menjadi alasan utama ketika itu. Apalagi, di Jogja, kerajinan-kerajinan yang dibuat dengan tangan sangat banyak dan beragam. Namun memiliki spesifikasi sendiri-sendiri. Hal itu terlihat dari pengelompokan kerajinannya. Mulai dari tanah liat, kain perca, hingga kertas daur ulang.
Ketika di Jogja, Dian hanya menggunakan waktu luangnya untuk membuat beragam kerajinan mungil. Awalnya, dia hanya membuat kerajinan dari bahan kain flanel atau kain wol untuk dirajut dijadikan bermacam-macam aksesori.
Dian biasa membuat pin, pita, hingga kartu ucapan lucu untuk dijual ke teman-teman kuliahnya. Hasil yang didapat cukup lumayan, sehingga dirinya semakin semangat membuat berbagai variasi bentuk kerajinan.
Meski ingin lebih serius dalam menggeluti usaha tersebut, Dian tidak pernah melakukan kursus untuk memperdalam ilmunya dalam membuat variasi bentuk aksesori. Dia hanya belajar dengan survei di daerah Malioboro atau pusat kerajinan kain perca Klaten. Selain itu, Dian juga rajin melakukan browsing di internet dan membaca beragam buku tentang produk hand made.
"Aku pernah survei harga kursus untuk membuat box hantaran pernikahan. Ternyata sekali kursus untuk step awal harus bayar Rp 2,5 juta. Akhirnya, aku nggak jadi kursus karena nggak punya biaya. Aku beli saja macam-macam bentuk box hantaran pernikahan lalu kubedah sendiri hingga tahu cara membuatnya," paparnya seraya membetulkan letak kacamatanya.
Tak lama setelah lulus dari UII pada 2007, Dian ingin lebih serius menggeluti usahanya tersebut di kampung halamannya, Jember. Dengan memanfaatkan garasi rumahnya di jalan Nanas, Patrang, dia membuat outlet kecil untuk menjual pernak-pernik hasil garapan tangannya. Menurut dia, bisnis tersebut cukup prospektif. Sebab, dia sempat menjualnya melalui person to person di kampus Unej, untuk uji coba dan ternyata berhasil. Hasil buatan tangannya diminati.
Berbekal rasa optimisme, Dian pun mulai lebih serius dengan usaha kecil-kecilannya. Hasil kerajinannya mulai beragam. Dari kerajinan aksesori, kini dia mulai membuat wedding gift. Aksesori yang tidak hanya dari kain flanel atau kain wol tetapi juga dari bubur koran yang dicampur dengan serbuk kayu dan lem untuk dijadikan celengan dan juga beragam gantungan kunci mungil dari bahan cleay paper.
Dari usaha kecil-kecilan tersebut, usaha Dian pun kian berkembang. Dian mulai membuka cabang di daerah perumahan Mangli Blok Q Nomor 1 pada 2009. dia juga sudah mempekerjakan pegawai sebanyak 5 orang untuk membantunya melayani pesanan yang hampir setiap hari selalu ada. Meski sebetulnya, sang Ayah sempat ragu dengan bisnis yang dijalaninya, Dian tak pantang menyerah hingga berhasil menggaet hati sang Ayah untuk mendukung apa yang dikerjakannya.
Tak kurang dari tiga bulan, Dian membuka satu cabang lagi outlet buncis room dan menambah pekerjanya sebanyak 2 orang pemuda untuk membantunya mengerjakan box-box hantaran pernikahan. Tak sulit bagi Dian untuk mempekerjakan orang. Sebab banyak tetangganya yang minta diajarkan untuk membuat beragam kerajinan tersebut.
Tak jarang, Ibu-ibu yang tinggal di kompleks rumahnya sering memintanya memberikan ilmu yang dimiliki Dian untuk putrinya. "Aku nggak menutup diri untuk tetangga-tetangga yang ingin belajar atau mengambil jahitan dari kain flanel untuk dibikin bantal atau tempat make up. Aku juga nggak menarik biaya untuk mereka yang belajar. Aku ingin berbagi juga sama mereka," katanya.
Dian kini tak sendiri. Ditemani sang kakak, Novita, dia lebih bisa mengatur waktu antara berbisnis dan kuliah S2-nya di Fakultas Hukum Unej. Saat ini, Dian bisa mengatur job disk. Sang kakak mengerjakan aksesori, sedangkan Dian mengerjakan wedding gift. "Dulu kakak sudah kerja di mana-mana. Sekarang malah memutuskan berwiraswasta. Kebetulan dulu di kuliahnya di UGM Jogjakarta. Jadi lumayan dapat pengalaman tentang berbagai macam kerajinan seperti ini," katanya.
Semua bahan yang dikerjakan Dian, mulai dari kertas daur ulang hingga bahan pernak-pernik dari kayu, dibuatnya sendiri dengan menggunakan tangannya. Karena itu, dia menyebut usahanya dengan by our hand. "Aku memang mengerjakan semuanya dengan tangan. Kalau dengan mesin, tentu saja aku tidak punya alatnya," sahutnya.
Dian menangani sendiri pembuatan kertas daur ulang dari bubur koran kemudian mencetak kayu sengon untuk dibuat pin dan jepit rambut atau juga merajut benang wol jadi kalung yang sekarang lagi trend serta membuat sandal jepit dengan berbagai macam karakter kartun yang terbuat dari bahan flanel di bagian depan. "Pokoknya selama ada bahan yang bisa dibikin cantik ya aku bikin," ujarnya sambil tergelak.
Selain itu, Dian juga menyediakan pemesanan cokelat dengan beragam rasa dan bentuk serta tart wedding untuk hantaran pernikahan. Biasanya, Dian memajang berbagai jenis cokelatnya tidak di outlet yang terletak di Jalan Kalimantan melainkan di outlet sekaligus tempat workshop-nya di Jalan Nanas, Kecamatan Patrang. "Semua produksinya di sana. Kalau di sini, aku hanya memajang aksesori," paparnya.
Dian mempunyai prinsip untuk selalu belajar berbagai inovasi untuk keberlangsungan usahanya. Dengan modal awal sebesar Rp 5 juta, kini dia berhasil meraup laba kotor hingga Rp 21 juta. Biasanya, laba bersihnya masih mencapai Rp 12 juta setelah dipotong untuk membayar pegawai dan berbelanja bahan-bahan untuk kerajinannya. "Lumayan sih hasilnya. Bisa untuk biaya kuliah S2. Bagiku, kuliah ini untuk refreshing dari bisnis utamaku membuat kerajinan," sahutnya seraya kembali tergelak.
Comments
love this
SEMANGAT buat yg lebh lucu n' seru!!!
u're so inspiring
RSS feed for comments to this post.