Dewi Motik, dikenal sebagai sosok wanita karir dan seorang ibu rumah tangga yang aktif dalam berbagai kegiatan usaha dan kemasyarakatan. Dalam mengarungi hidup, Dewi selalu memegang pepatah,”Hemat pangkal kaya.”
Berbagai keberhasilan dan kepopuleran yang telah diraih wanita karir ini tak lepas dari sifatnya yang amat hemat. Sifat hemat ini, secara langsung dan tidak langsung, ditularkannya kepada banyak orang. Suatu sifat yang pantas ditiru, terutama di tengah kondisi ekonomi yang sulit.
Bila ditanya tentang profesinya, Dewi akan menjawab sebagai ibu rumah tangga. Sebab, ia memang seorang ibu rumah tangga, yang sangat membanggakan kodrati perempuan. Jawaban ini mungkin saja membuat banyak orang ragu, sebab ia lebih dikenal sebagai wanita karir dan jarang pula tampil di depan umum bersama suami tercinta.
Tetapi, itu bukan jawaban final dan satu-satunya. Sebab ia memang memiliki aktivitas sebagai pengusaha, penulis, pengajar, dosen, pembicara di berbagai seminar dan juri di berbagai perlombaan. Jadi, ia adalah ibu rumah tangga yang sukses sebagai wanita karir. Aktif dalam berbagai kegiatan usaha, pendidikan dan kemasyarakatan.
Ketertarikannya untuk terjun di bidang usaha dan kegiatan sosial terpatri ketika pada tahun 1975 bersama kakaknya, Dr. Hj. Kemala Motik Abdul Gafur mendirikan Iwapi (Ikatan Wanita pengusaha Indonesia). Saat itu ia menjabat sebagai Honorary President Iwapi Pusat.
Saat ini, Dewi Motik menjabat sebagai direktur berbagai perusahaan swasta antara lain Pimpinan Umum DE MONO Grup (Lembaga Pendidikan Keterampilan dan Kewiraswastaan DE MONO dan Koperasi DE MONO), serta pimpinan di beberapa perusahaan. Ia banyak berkecimpung di usaha koperasi dan usaha kecil-menengah, pendidikan lingkungan hidup dan sosial. Usaha kecil yang tengah diigelutinya adalah moto atau motor toko, sedang dirintis juga becak toko (bento), mobil, motor distribusi.
Aktivitasnya di bidang pemberdayaan usaha kecil cukup membantu untuk membangkitkan gairah masyarakat berusaha di jalan yang lurus. Ia tertarik pada dunia politik tetaoi tidak mau terjun dalam dunia politik praktis. Ia justru khawatir, niat baiknya membantu masyarakat ekonomi lemah akan terabaikan bila harus terjun di dunia politik praktis. Sebab menurutnya, dunia politik sarat dengan persaingan kepentingan yang sering kali harus mengorbankan pihak lain. Lebih dari itu, ia amat yakin bahwa tanpa ikut terlibat di dunia politik praktis pun bisa menghasilkan karya yang lebih baik dibandingkan para politikus itu. Namanya memang lebih dikenal daripada kebanyakan orang yang ada dalam politik praktis. (*/ dari berbagai sumber)