Kurun waktu tiga bulan ini merupakan masa-masa penuh kejutan dan tantangan bagi Nick D’Aloisio. Kehidupannyapun berubah drastis, yang semula remaja biasa berusia 16 tahun menjadi teknopreneur muda yang sukses menggaet investor dari Hong Kong. Menariknya, investor itu bukan pengusaha biasa melainkan miliarder Li Ka Shing yang disebut sebagai orang terkaya nomor 11 di duna.
Bisnis rintisan Nick berawal ketika dirinya sedang searching bahan untuk tugas sekolah di internet. Lelah dan jengah membaca segudang informasi dari hasil pencarian yang belum tentu sesuai keinginannya, Nick bertekad membuat aplikasi peringkasan yang lebih fokus pada poin terpenting. Jadi, ia menghabiskan waktu di dalam kamarnya dan mempelajari artificial intelligence programming secara otodidak lalu menciptakan aplikasi peringkasan teks di berbagai macam webpage berdasarkan pada poin terpenting.
Aplikasi untuk iPhone itu kemudian ditampilkan dalam blog-nya. Pada bulan September 2011, bertepatan dengan tahun ajaran baru, ia menjalin kontak dengan salah satu investor besar di Hong Kong. Apa yang dilakukan Nick ini termasuk sesuatu di luar dugaan untuk anak seusianya. Ia memberanikan diri mengirim surat elektronik mengenai keberlangsungan aplikasinya ke pihak Horizons Ventures, perusahaan investasi milik miliarder Li Ka Shing yang dijuluki orang terkaya nomor 11 di dunia. Keberuntungan memihaknya. Horizons Ventures tak menampik mentah-mentah surat elektronik Nick. Sebaliknya, perusahaan itu bersedia menjadi investor start up bocah remaja tersebut.
Start up Nick kemudian diberi nama “Summly Limited”. Summly, aplikasi gratis untuk iOS App store resmi diluncurkan pada 13 Desember lalu. Hebatnya, dalam kurun waktu dua jam setelah diluncurkan, aplikasi itu telah diunduh sebanyak 1.000 kali.
Nilai investasi yang diberikan Horizons Ventures memang tak disebarluaskan kepada publik. Nick mempergunakannya untuk membayar upah dua orang programmer berpengalaman untuk mengembangkan software peringkasan otomatis yang diciptakannya dan sistem algoritma unik yang menjadi dasar artificial intelligenceprogramming. Ia juga telah menyiapkan diri untuk mematenkan ciptaannya.
Summly membuka kesempatan bagi Nick untuk melakukan perjalanan ke Berlin dan New York di waktu liburan sekolah untuk bertemu manager Horizons, Solina Chau dan sejumlah tokoh penting di bidang artificial intelligence serta tokoh di bidang teknologi yang berpengaruh seperti Ian Dodsworth, founder TweetDeck.
Seperti dilansir dari laman Forbes, pekan lalu, Nick juga telah bertemu dengan content provider untuk membicarakan kerja sama. “Saya sangat senang membangun perusahaan,” ujarnya. Ia menambahkan dengan optimis, “Pada akhirnya bila anda tidak memiliki produk yang bagus, (perusahaan) akan hancur dalam seketika. Color, aplikasi sharing foto mobile yang diluncurkan awal tahun ini contohnya. Secara fundamental, aplikasi itu tak berdasarkan pada kebutuhan konsumen. Itu bukanlah yang diinginkan masyarakat. Dengan Summly, kami memiliki apa yang diinginkan masyarakat.” (*/ely)