Ciputra News



jasa

Banner
Banner
Banner
"Girls Who Code": Ajak Lebih Banyak Perempuan Terjun ke Teknologi Hits : 664 PDF Cetak E-mail
Selasa, 31 Juli 2012 09:57

Industri berteknologi tinggi sangat kental dengan dominasi kaum Adam. Sebuah istilah parodi dari kata programmer pun diciptakan untuk itu, “brogrammer” (perpaduan kata “brother” dan “programmer”). Tercatat hanya 21% dari total jumlah programmer di tahun 2010 adalah wanita (www.readwriteweb.com). Persentase itu menururn jika dibandingkan dengan tahun 2000 yang mencapai persentase 24%. Data lain menyebutkan kurang dari 10% perusahaan yang didukung pendanaan investor didirikan oleh entrepreneur wanita. Sebuah organisasi yang disebut “Girls Who Code” (GWC) mencoba untuk melakukan terobosan dengan menggiatkan lebih banyak perempuan untuk menekuni bidang profesi ini.

GWC bertujuan untuk mempersempit jurang perbedaan gender dalam dunia teknologi dengan memberikan pengajaran bagi para perempuan muda berusia 13 sampai 17 tahun berbagai ketrampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk merintis karir dalam ranah teknologi, sebagaimana yang sudah banyak dilakukan para pria. Program pertama GWC akan dimulai musim panas tahun ini di kota New York, AS. Sebanyak 20 gadis remaja dijadwalkan akan mengikuti pelatihan yang berlangsung selama 8 minggu dengan 8 jam untuk setiap hari pertemuan. Mereka akan digembleng mengenai cara-cara conding hingga mempresentasikan business plan kepada klien dan investor potensial.

Si penggagas program Reshma Saujani adalah seorang kandidat untuk Kongres tahun 2010 yang tidak berhasil lolos. Wanita yang juga pernah bekerja sebagai deputy public advocate untuk New York City ini mengatakan ia memulai GWC tak hanya sebagai sarana mendidik wanita muda tetapi juga memberikan inspirasi pada mereka untuk meyakini bahwa mereka juga bisa mewujudkan impian berkarir di dunia teknologi.

Memulai adalah hal yang mudah. Membuat mereka senantiasa setia dengan impian itu terbukti lebih sukar dan menantang. Lihat saja Silicon Valley sekarang. Dengan Marissa Mayer sebagai pengecualian, Silicon Valley juga didominasi oleh kaum pria usia produktif, di mana para programmer muda ini memiliki budayanya sendiri yang pada gilirannya melekat dengan budaya kerja di Silicon Valley secara keseluruhan.

Silicon Valley mungkin saja menyambut wanita dengan tangan terbuka, tetapi hanya untuk menjadi pelengkap saat mereka harus memamerkan gadget terbaru ke konsumen.

GWC berhasil mendapatkan pendanaan dari sejumlah sponsor perusahaan besar seperti General Electric, Google, eBay dan Twitter (yang juga menjadi investasi filantropis pertama Twitter). Setiap kontributor tak hanya memberikan sokongan dana segar tetapi juga menjadi tuan rumah bagi banyak tur lapangan, mendonasikan peralatan atau mengirimkan seseorang untuk mengajar dan berbagai sebagai pembicara dan nara sumber dalam kelas. Di antara banyak sosok berpengaruh yang dihadirkan ialah Jack Dorsey dari Square, chief marketing officer CEO Beth Comstock and pendiri Gilt Groupe Alexis Maybank.

“Perusahaan-perusahaan besar ini tak hanya ingin mempersempit jurang perbedaan gender ini karena itulah yang seharusnya terjadi untuk negeri ini tetapi juga memberikan banyak faedah bagi perkembangan bisnis mereka di masa depan”, kata Saujani. “ Perusahaan besar paham bahwa mereka tidak bisa menghasilkan inovasi yang lebih baik lagi dari pesaing tanpa didukung dengan orang-orang yang sebenarnya menggunakan produk mereka setiap hari untuk membuat produk tersebut pula.”


Ia menekankan bahwa meskipun para wanita menggunakan Internet 17% lebih banyak dari kaum pria dan menciptakan ⅔ konten yang tersedia di situs jejaring sosial, mereka hanya mendapatkan penghasilan 14% dengan ketrampilan dan pengetahuan yang berkaitan dengan ilmu komputer.


“Pada usia 13 dan 14 tahun, terjadi sesuatu yang membuat gadis-gadis muda ini berpikir bahwa coding atau bekerja sebagai insinyur bukanlah bidang yang diperuntukkan untuk wanita. Bagian dari misi kami ialah mendorong lebih banyak perempuan untuk memasuki arena persaingan teknologi ini dan mengurangi keengganan mereka terhadap pengambilan risiko.” (RWW/*AP)

 

Sumber gambar:

techland.time.com

 


Another articles:


Add comment


Security code
Refresh

Copyright © 2013 Ciputra Entrepreneurship
Mobile Version