Ciputra Entrepreneurship

Ciputra Entrepreneurship

Harumnya Bisnis Perhiasan Dari Olahan Kulit Durian

19 Aug 2013 Hits : 1,805

Mahasiswi Universitas Surabaya (Ubaya) Stella Christy W, merancang perhiasan dari olahan kulit buah durian seperti kalung, gelang, anting-anting, cincin, dan hiasan rambut.

"Saya memang suka durian, karena itu saya sering melihat kulit durian dibuang begitu saja, padahal jumlah kulit durian lebih banyak daripada isinya," katanya di kampus Ubaya, dikutip dari Antara.

Mahasiswi Jurusan Desain Manajemen Produk Fakultas Industri Kreatif Ubaya itu menjelaskan pengalaman yang dilihatnya saat membeli durian di Trawas, Mojokerto, dan memunculkan ide baru.

"Karena itu, saya mengajukan tema olahan kulit durian kepada Ibu Maharani Dian Permanasari selaku dosen pembimbing dan beliau tidak keberatan," katanya.

Bahkan, gadis kelahiran Semarang itu berencana mengembangkan hasil kreasi yang mirip "jewellery" bernilai mahal itu untuk wirausaha setelah dirinya selesai mengikuti ujian pada 6 Maret.

"Proses pembuatannya tidak begitu sulit, karena hanya membutuhkan ketelitian dalam memilih kulit durian yang bebas dari kebusukan ketika dibiarkan dalam beberapa hari," katanya.

Kulit durian dicuci lebih dulu sampai bersih tanpa detergen, lalu didiamkan untuk melihat perubahan warna kulit yang semakin kecokelatan.

"Setelah itu, kulit durian kecokelatan dijemur di bawah sinar matahari, kemudian dikukus untuk menghilangkan kandungan air dan getah. Kalau dimasak dengan air akan bergetah, tapi kalau dikukus akan hilang getahnya," kata dia.

Tahap berikutnya tergantung dari model perhiasan yang diinginkan. Ada yang ditumbuk, ada yang dirapikan dengan cara digunting sesuai keinginan, baik guntingan pendek maupun guntingan memanjang.

"Kalau ingin warna kulit durian yang putih, maka perlu direndam pemutih dulu," katanya.

Sebelum dibentuk sesuai keinginan, kulit durian diberi lem agar tidak mudah pecah saat digunting untuk berbagai model, seperti model lingkaran atau model gulungan (linting).

Akhirnya, model yang dihasilkan itu pun dirangkai dalam berbagai bentuk, apakah trapesium, kubus, segitiga, dan sebagainya.

"Tahap terakhir dikaitkan antara duri satu dengan duri yang lain dengan menggunakan tali senar tipis," katanya. (bn/antara))