Provinsi Papua memiliki komoditas unggulan yaitu buah matoa (Pometia spp.). Mutu buah matoa dari Papua dan harga memiliki mutu yang tinggi dan pasarnya pun lebih tinggi. Informasi di lapangan, permintaan pasar untuk buah ini sangat baik, bahkan pada beberapa pameran hasil pertanian, buah ini selalu habis dengan cepat diborong pengunjung. Tapi sayangnya di Propinsi asal buah ini belum dikembangkan dan pengolahan pertanian buah ini belum dilakukan secara optimal.
Di Papua sendiri harga buah ini mencapai Rp15 ribu hingga Rp50 ribu per kilogram (kg), padahal hampir seluruh wilayah Papua khususnya di dataran rendah dan sedang buah ini tumbuh dengan baik. Rata-rata buah yang dihasilkan mencapai 200-500 kg per pohon per tahun. Sehingga per pohon minimal bisa menghasilkan Rp3 juta jika dijual seharga Rp15 ribu per kg.
Hal ini merupakan peluang usaha yang sangat prospektif untuk dikembangkan. Buah matoa kelapa memiliki daging lebih tebal dan rasa lebih nikmat sehingga harganya pun relatif lebih mahal dibandingkan jenis yang lainnya. Rata-rata harga matoa kelapa berkisar Rp25 ribu hingga Rp50 ribu per kg.
Jika per tahun rata-rata produksi per pohon berkisar antara 200-500 kg, maka minimal yang diperoleh petani untuk setiap pohon adalah Rp 5 juta. Permintaan pasar akan buah ini sangat tinggi dan belum bisa menjawab permintaan tersebut, dengan demikian produk ini bisa lebih ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya sehingga mampu meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Pada tahun 2005, sebagai upaya penelitian dan pengembangan pertanian, UGM telah membangun kebun plasma nutfah tanaman langka di Kebun Pendidikan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (KP4). “Saat ini, sedang panen buah matoa yang merupakan tanaman asli dari rimba Papua. Setidaknya, ada 6 jenis atau varitas yang terdapat di University Farm ini,” kata Dr Ir Cahyono Agus Dwi Koranto M Agr Sc, Kepala KP4 UGM, kepada wartawan di Jogjakarta, saat itu.
Buah matoa yang terkenal lezat dan penuh khasiat tersebut sudah mulai dipasarkan di kalangan terbatas UGM. Menurut Cahyono, produksi massal semai matoa untuk masyarakat umum baru bisa dipasarkan pada tahun 2006, atau setahun setelah pembangunan kebun plasma nutfah tersebut. “Diharapkan nantinya masyarakat luas bisa menanam matoa dalam pot sehingga dapat menikmati kelezatan buah rimba Papua dari halaman rumahnya sendiri,” kata Cahyono.
Dia melanjutkan, beberapa mahasiswa dan dosen UGM sedang mengadakan penelitian tentang studi dendrologi, regenerasi vegetatif, generatif dan kultur jaringan matoa maupun tanaman langka lainnya. Khasiat farmakologi buah matoa tampaknya belum diteliti lebih lanjut, meskipun dipercaya dapat mengobati beberapa penyakit dalam.
Sementara itu, di Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, pohon matoa telah menjadi “pohon rakyat”. Artinya, hampir setiap rumah memiliki pohon ini, kecuali rumah yang tak punya halaman atau halamannya. Masyarakat di kota itu berpendapat, selain dimakan dalam keadaan segar, buah matoa bisa dibuat kolak, juice, atau es buah. Bahkan jika dikembangkan lebih lanjut buah matoa juga bisa dikalengkan atau dibuat manisan. Bagaimana? Berminat terjun dalam bisnis budi daya buah matoa? (*/surabayapost)
Peluang Usaha Studio Musik Dunia musik yang banyak berkembang sekarang sebenarnya telah membuka peluang untuk berbisnis studio musik. Banyak orang... Selanjutnya...