Di samping halaman depan rumah itu terdapat pohon mangga yang ketika itu sedang berbuah. Sedangkan di sisi lain terdapat tanaman bunga seperti kebanyakan hiasan di depan rumah pada umumnya. Setelah masuk ke ruang tamu rumah itu baru terlihat perbedaan dengan rumah lainnya. Karena jumlah pajangannya berbeda dengan rumah lainnya. Ruang tamu Yetti L. Husana, itu sekaligus berfungsi sebagai ruang pamer barang interior yang sebagian besar terbuat dari rotan.
Alumni Fakultas Sospol Universitas Padjadjaran itu, memanfaatkan rumahnya sebagai ruang pamer dan kantor, serta di bagian belakangnya dijadikan sebagai tempat produksi untuk membuat barang hiasan interior yang terbuat dari rotan dan bahan limbah lainnya.
Awalnya Yetti yang tinggal di kawasan Jl. Rajawali Timur, Kota Cirebon, Jabar, itu merasa prihatin melihat banyaknya limbah rotan yang terbuang sia-sia dari perusahaan furnitur di sentra rotan Tegalwangi, Cirebon.
Yetti yang ketika itu memutuskan untuk mengurus anaknya, juga tertarik untuk memulai usaha di rumah. "Saya memilih bekerja di rumah, karena saya dapat mengasuh anak," kata Yetti yang ketika itu dikunjungi oleh mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ).
Pada 1988, Yetti mulai mengikuti pelatihan keterampilan yang diadakan oleh beberapa instansi pemerintah setempat. Dia pun mulai mempraktikkan keterampilan yang sudah didapatnya. Dia mulai menggelar usaha skala kecil dibantu oleh tiga orang pemuda putus sekolah untuk memproduksi barang-barang kerajian yang berbasis rotan seperti limbah rotan fitrit, lasio, cor.
Produksi pertamanya berupa keranjang dengan mutu yang masih kurang. Yetti pun tidak puas dengan hasil seperti itu. Dia gigih mengikuti pelatihan lain. Desainnya dia buat sendiri.
Dia mencoba merintis pola kerja sama dengan satu pengusaha rotan yang sudah berpengalaman sebagai perusahaan ekspor di Tegalwangi untuk memproduksi pembuatan pigura dari rotan. Untuk memproduksi barang kerajinan yang mendapat subkontrak dari pengusaha rotan, Yetti mempekerjakan pemuda putus sekolah dan ibu rumah tangga di sekitar lokasi. Semuanya berjumlah 82 orang.
Dari pengalaman tersebut, dia pun mendapat kepercayaan dan menerima pesanan barang-barang kerajinan berupa pigura dan keranjang. Ternyata produknya diterima oleh pasar luar negeri. Barang produksinya pada waktu itu berupa keranjang, anyaman bunga rotan, guci rotan.
Yetti merintis usahanya bermodalkan keterampilan dan keuletan pengusaha dan partisipasi masyarakat yang banyak mendukung usaha tersebut. Berbekal pengalaman dan mendapatkan sokongan dari pemerintah setempat, maka upaya pemasaran terus dilakukan. Ternyata pada tahun yang sama, dia mendapatkan pesanan dari Panca Niaga yang barangnya diekspor ke Jepang dan Taiwan.
Usahanya terus berkembang. Dia juga memperluas usahanya di wilayah Cirebon. Pemasarannya tidak hanya ke Jepang, tapi sudah berkembang ke beberapa negara di Timur Tengah, Amerika, Kanada, dan Eropa. Seiring dengan peningkatan pemasaran produk kerajinan itu, jumlah tenaga kerjanya juga bertambah menjadi 101 orang.
Variasi produknya juga semakin bertambah. Ada keranjang rotan, kursi anak-anak dan bunga rotan. Untuk menjaga agar tidak terjadi penjiplakan desain, pada 1995 seluruh desainnya didaftarkan ke Departemen Kehakiman dan sampai saat ini sudah sekitar 100 desain yang mendapat perlindungan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HaKI) dari Departemen Kehakiman.
Untuk menyokong kegiatan produksi barang kerajinan itu, Yetti memberdayakan orang-orang cacat (tuna rungu, tuna wicara, cacat fisik dan mental), anggota PKK dan masyarakat umum agar mendapat lapangan kerja untuk menunjang penghasilan keluarga. Atas upaya Yetti untuk memperdayakan orang-orang cacat dan sekitarnya, maka pada 1995 ibu empat anak itu mendapat penghargaan Upakarti untuk kategori Pengabdian Masyarakat dari Presiden RI.
Dari penghargaan yang diperolehnya itu memberi motivasi terhadap dirinya untuk berkarya dan berusaha lebih tekun, menghasilkan karya-karya terbaik berupa barang-barang kerajinan dari rotan yang didominasi bunga rotan. "Saya sangat perhatikan kontrol finishing-nya," kata Yetti yang kini dibantu oleh anak perempuannya
Pemilik CV Una Kreasi Persada terus berusaha melakukan diversifikasi produk, agar tidak membosankan pasar dengan membuat barang-barang kerajinan lainnya seperti tas, tudung saji, baki dan lain-lain yang berbahan baku rotan, kayu, plastik, eceng gondok, mendong dan pelepah pisang.
Masalahnya yang dihadapinya sekarang adalah bahan baku yang sedikit sulit didapat. Mutunya berkurang dan harganya tinggi, sehingga memberikan marjin yang kecil.
Berawal dari keprihatinannya melihat sampah-sampah rotan dari pengusaha rotan membuat Yetti kini menjadi eksportir barang kerajinan untuk dekorasi ruangan dan membuka lapangan pekerjaan untuk lebih dari 100 orang. (*/Harian Bisnis Indonesia)