Memulai usaha, khususnya kuliner tak semudah membalikkan telapak tangan. Terlebih lagi, jika banyak yang mengelola usaha serupa, seperti mie ayam ceker. Untuk itu, harus memiliki keunggulan dibandingkan lainnya.
Dwi Widayanto, pemilik kedai “Mie Ayam Ceker Bandung” di Jalan Wonodri, Sendang Raya, Semarang, Jawa Tengah ini masih eksis menggeluti usahanya sejak tiga tahun belakang. Sebab, dia berupaya membuat masakannya memiliki rasa yang berbeda dari yang lain.
Meski tidak memiliki latar belakang boga, dia berinisiatif melakukan eksperimen memadu bumbu. Beberapa macam rempah dia gunakan untuk menjadikan ceker ayam sebagai toping masakannya, dapat lumer di mulut. Tulang kaki ayam yang nyaris lunak itu pun tak membuat teksturnya berantakan. Menurut dia, cita rasa toping menjadi kunci ciri khas mie buatannya ini.
“Beberapa bulan, saya mempelajari membuat toping secara otodidak. Beberapa mie bandung di Semarang pasti rasanya tidak ada yang sama dengan mie olahan saya,” katanya.
Kendati demikian, usahanya ini tidak terlepas dari dukungan pamannya yang hobi memasak. Keterampilan pamannya yang menjual kuliner serupa ditularkan kepadanya. “Tetapi paman hanya mengajarkan saya bagaimana cara membuat mie yang baik. Sedangkan untuk membuat toping-nya, saya dituntut mengolahnya sendiri, sesuai dengan lidah saya,” paparnya.
Kekhasan rasa, menurutnya merupakan persoalan yang simpel tetapi cukup rumit. Sebab rasa harus bisa membuat orang selalu kangen karena ciri khasnya tidak ditemukan pada masakan lain.
Dwi mencari varian olahan mie yang lain dengan toping yang sama. Meski mie buatannya ini bernama mie bandung, tapi dia berusaha mengelola cita lidah orang Semarang yang gemar manis dan asin. Sebab dia menyadari, kedainya berada di lingkungan masyarakat Semarang.
Ke depan, Dwi berkeinginan untuk mengembangkan usahanya dengan membuka cabang di beberapa tempat di Semarang. Semangatnya kian memuncak ketika persoalan menghampiri kariernya di perusahaan swasta tempat dia pernah bekerja. Himpitan dan tekanan pesaingnya, justru membuatnya semakin mantap untuk menjadi seorang wirausahawan yang tangguh.
Lulusan Elektro Universitas Diponegoro ini berpedoman, tak perlu menunggu pensiun untuk berwirausaha. “Tekat pensiun dini sudah saya ambil, rugi jika saya melakoni bisnis ini secara setengah-setengah,” katanya. (*/SM)