FILM ini diawali adegan di malam hari, ketika Ben Talbot (Simon Merrells) mencari seseorang di tengah hutan. Lawrence (Benicio Del Toro) sang kakak sengaja pulang untuk mencari Ben, sesuai permintaan Gwen (Emily Blunt) yang sudah bertunangan dengan Ben.
Tapi setibanya di rumah yang ia tinggalkan belasan tahun, kabar duka ia terima. Ben sudah meninggal dengan jasad mengenaskan. Sebelum tahu penyebab kematian Ben, Lawrence tak ingin kembali ke Amerika, tempat tinggalnya ini.
Seting abad ke-19 tak jadi masalah jika The Wolfman menyajikan sesuatu yang baru. Namun sayangnya, selain efek visual yang keren, tak ada yang baru dan menyegarkan untuk dilihat. Orisinalitas serigala jadi-jadian memang begitu adanya, tapi kenapa tidak mencoba pendekatan baru, misalnya seting masa kini?
The Wolfman diuntungkan dengan Benicio Del Toro dan Anthony Hopkins yang berusaha berakting maksimal dan Emily Blunt yang memerankan wanita tegar. Sebagai Gwen, Emily tidak berusaha tampil sebagai wanita tanpa harapan. Bahkan Gwen bisa menjadi sosok tegar dan tangguh tatkala menghadapi bahaya.
Film garapan Joe Johnston ini tak punya sesuatu yang baru. Bagi yang sudah tahu cerita werewolf alias serigala jadi-jadian, ceritanya mudah ditebak, mengingat tak banyak karakter yang terlibat. Bahkan Hugo Weaving terkesan terabaikan dengan karakternya sebagai agen Scotland Yard. Porsinya kurang menonjol, hanya sebagai tukang tangkap orang yang jadi tertuduh. Intriknya pun kurang gereget.
Peristiwa masa lalu yang dialami Lawrence sedikit banyak memengaruhi hubungannya dengan sang ayah, Sir John Talbot (Anthony Hopkins). Tapi hal ini kurang terekspos, kecuali menjelang akhir film.
Skenario menjadi kelemahan The Wolfman yang dimaksudkan untuk remake film tahun 1941 berjudul mirip, The Wolf Man. Setelah adegan pembuka di abad ke-19 tadi, kirain setingnya akan ditarik ke abad milenium sekarang ini. Ternyata tidak.
Di satu sisi The Wolfman sukses menyajikan atmosfer misterius dan kelam, tapi kurang sukses menghadirkan sesuatu yang unik dan menjadi poin tambahan bagi yang ingin menonton.
Kalau ingin sesuatu yang klasik, boleh-boleh saja menonton, asalkan jangan bawa anak-anak. Beberapa adegan tak pantas dikonsumsi anak karena mengandung kekerasan.
Back by popular demand, NCM Fathom and Omniverse Vision bring Andrew Lloyd Webber's The Phantom of the Opera 25th Anniversary Event back to select movie theaters nationwide for a final big screen. Celebrate the 25th anniversary of Andrew Lloyd Webber and Cameron Mackintosh's history-making The Phantom of the Opera with a fully-staged, lavish production, set in the sumptuous Victorian splendor of the Royal Albert Hall. Broadway's longest running show, seen by over 100 million people worldwide, comes to life on... [more]