Move
Close
Lupa nama pengguna?
Lupa Password?
Pendaftaran

mobile-banner-half

jasa

Banner
Banner
Sambut Imlek, Ko Aseng Raup Untung dari Lilin dan Hio Views :205 Times PDF Cetak E-mail
Senin, 16 Januari 2012 09:47

Menurut kalender China, Imlek tahun ini bershio naga air. Sesuai kepercayaan masyarakat Tionghoa, shio tahun naga air diramalkan akan memberi pencerahan, termasuk diantaranya di bidang bisnis. Nah bagi seorang wirausaha keturunan Tionghoa yang satu ini, pencerahan itu pun telah dirasakannya jauh-jauh hari sebelum Imlek tiba. Seperti Imlek sebelumnya, pemilik usaha hio dan lilin di daerah Tangerang, Banten, ini telah kebanjiran order hio dan lilin besar dari berbagai daerah beberapa bulan jelang perayaan Tahun Baru China tersebut.

 

ko-asengBila ditilik dari kalender masehi, Imlek 2012 jatuh pada hari Senin, 23 Januari. Aura Imlek yang diwarnai dengan beragam ornamen khas telah menghiasi sejumlah klenteng, mal atau pusat perbelanjaan lain dalam seminggu sebelum perayaan Tahun Baru China itu tiba. Lampion merah, pohon mei hwa lengkap beserta angpao-nya, kue keranjang serta pertunjukkan barongsai dan liong tampak semarak menyambut datangnya tahun naga air.

 

Semarak menyambut Imlek juga terasa begitu kental menyelimuti sebuah kawasan industri hio dan lilin di Kampung Melayu, Teluk Naga, Tangerang, Banten. Industri rumahan yang dimotori oleh Can Yau Seng atau kerap disapa Ko Aseng ini telah beroperasi sejak tahun 2005. Pada awal masa perintisannya, Ko Aseng hanya memproduksi lilin berukuran ½ kati (1 kati = 6¼  ons). Namun seiring perkembangannya, Ko Aseng bisa menyediakan pemesanan lilin berbobot 1.000 kati. “Butuh tenaga 4 orang, lho, untuk mengangkat lilin seberat 1.000 kati. Mereka mengangkatnya pakai tali, dua orang memanggul di depan dan sisanya lagi memanggul di belakang,” ujar pengusaha yang berasal dari Pontianak, Kalimantan Barat itu. Wow!

 

Bercerita mengenai omzet dan pemesanan, untuk perayaan Imlek tahun lalu saja, Ko Aseng mengaku menerima order produk cukup banyak. Permintaan akan lilin dan hio diakui lelaki yang murah senyum itu meningkat setiap tahunnya. Ia pun optimis, order tahun ini juga mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya karena bagi masyarakat Tionghoa, tahun naga air dipercaya memiliki keistimewaan tersendiri.

 

Pemesanan lilin dan hio pun mengalir bagaikan air dan pemesanannyapun telah diterima kurang lebih enam bulan sebelum Imlek. Ko Aseng mengungkapkan, “Total pemesanan lilin tahun lalu kira-kira 30.000 kati. Kita jual per katinya Rp12 ribu.” Sementara untuk hio, Ko Aseng memproduksi 2 jenis hio yakni hio lingkar yang bentuknya melingkar-lingkar seperti obat nyamuk serta hio belimbing dengan bentuk bergerigi seperti buah belimbing. Itu tahun lalu. Tahun ini, pemesanan diperkirakan bisa meningkat hingga dua kali lipatnya.

 

Tenaga Kerja

Pada awalnya, Ko Aseng terjun secara langsung dalam proses pembuatan lilin maupun hio. Karyawan tadinya hanya berjumlah 2-3 orang tapi seiring bertambahnya demand jumlah stafnya pun meningkat mencapai 30-40 orang yang sebagian besar dari mereka berasal dari daerah sekitar lokasi industri. Diakui oleh Ko Aseng, memproduksi hio memang memakan tenaga kerja yang jauh lebih banyak dibanding membuat lilin sebab prosedurnya tergolong lebih rumit.

 

Ko Aseng membeberkan bahwa demand lilin akan meroket tajam saat Imlek tiba saja karena itu usaha tersebut tak bisa dijadikan sumber pencaharian tetap. Untuk tetap menyambung hidup, dirinya melakukan ekspansi dengan membuat hio pada tahun 2006-2007 agar semua tenaga kerjanya dapat terus bekerja.

 

Proses Produksi

Bahan utama pembuatan lilin adalah parafin atau bahan pembuat lilin. Dirasakan oleh Ko Aseng, harga parafin cukup tinggi dan terkadang menjadi beban tersendiri dalam hal pengeluaran usahanya. Untuk mensiasati hal itu, Ko Aseng lalu memakai sterix (limbah campuran kelapa sawit) atau lilin-lilin bekas yang diperolehnya dari klenteng.

 

Setelah terkumpul, bahan-bahan itu lalu dilebur dalam sebuah tong besar selama kurang lebih 4 sampai 5 jam. Di sela-sela proses peleburan, adonan dalam tong diberi zat pewarna untuk memberikan warna merah yang identik dengan warna Imlek. Sesudah itu, adonan dicetak ke dalam cetakan stainless berukuran antara ½ kati sampai 1.000 kati. Di dalam cetakan, adonan lilin dibiarkan hingga beberapa hari agar mengeras. Untuk lilin berukuran kecil cukup didiamkan 1-2 hari, sementara yang besar didiamkan sampai 1 minggu. Tahap terakhir finishing yaitu mengemas serta menghias lilin dengan sablonan tulisan karakter China atau simbol yang berkaitan dengan Imlek di plastik anti api.

 

Sementara untuk hio, proses produksinya cukup mudah. Bahannya adalah serbuk kayu jati yang dicampur dengan tepung sagu (kanji). Setelah dicampur, bahan lalu diulen, baik dengan cara manual yaitu diinjak-injak ataupun dengan menggunakan mesin agar menghasilkan produk berkualitas yang tak mudah pecah atau retak. Kemudian, adonan hio dimasukkan ke dalam mesin pencetak yang dioperasikan manual dengan memakai tenaga manusia. Untuk hio lingkar, adonan disusun melingkar di sebuah triplek berbentuk bulat yang bila dihitung jumlah putarannya berjumlah antara 29 sampai 30. Sedangkan untuk hio belimbing, mencetaknya lebih mudah yakni cukup dengan mengikuti kinerja mesinnya saja.

 

Hio lingkar dan belimbing yang telah terbentuk lalu dijemur selama 2-3 hari bila matahari bersinar terik. Setelah itu kedua jenis hio dicelupkan ke bahan pewarna yang telah diberi pewangi, diangkat dan dijemur kembali. Sebelum dipasarkan, sama seperti lilin, khusus untuk hio belimbing dikemas dengan menambahkan hiasan di bagian lidi batangnya. Dari keterangan Yati, salah seorang pegawai Ko Aseng, ia dan 21 orang pekerja lainnya mampu memproduksi sekitar 2.000 batang hio belimbing dan 200-an hio lingkar setiap harinya.

 

Optimis

Berbicara mengenai usaha yang ditekuninya, Ko Aseng optimis bisnisnya itu memiliki peluang potensial untuk dikembangkan. Memproduksi hio dan lilin sebagai alat persembahyangan itu akan terus dilakoninya untuk menuai pendapatan serta memberi penghasilan bagi para tenaga kerjanya. “Selama manusia membutuhkan komunikasi dengan Sang Pencipta, alat-alat persembahyangan seperti lilin dan hio yang sering dipakai umat Buddha dan Kong Hu Chu ini pasti akan tetap dibutuhkan sampai kapan pun,” jelasnya. (*/ely)

 


Another articles:


Add comment


Security code
Refresh

Copyright © 2010-2012 Ciputra Entrepreneurship
All right reserved