Ciputra Entrepreneurship

Ciputra Entrepreneurship

Irmon "Datuak", Bos Perabotan Aluminium

14 Oct 2010 Hits : 2,416

Banyak hal sudah dilakoni Irmon sebelum ia menekuni usaha perabotan aluminium. Ia pernah bekerja di perkebunan teh di daerah Baruah Gunung Suliki Kabupaten 50 Kota. Karena tidak punya prospek alias tutup, otomatis ia harus mencari usaha lain.

Pemasaran alat-alat rumah tangga seperti pengaman gas ia jalani pula selama 4 tahun. Karena pemasaran alat pengaman gas itu juga sepi, saingan semakin banyak, Irmon yang kerap disapa Datuak itu bergabung dengan temannya yang meiliki usaha pembuatan perabotan dari aluminium di kawasan Pasar Raya Padang.

“Cuma 1,5 tahun saya di sana. Usaha itu memang masih hubungan keluarga. Jadi kita diberi kesempatan untuk mendalaminya. Saatnya saya merasa sanggup berdiri sendiri, saya keluar dan mencoba membuka sendiri,” tutur Datuak.

Dengan mengontrak tempat di Jalan Ujung Gurun Padang, Datuak mulai menapaki usaha perabotan aluminiumnya dengan dibantu dua orang pekerja. Pada tahun 2002 itu, Datuak mengaku segalanya memang pas-pasan. Tempat yang berukuran 5 x 5 meter itu masih terlihat lapang karena tak banyak peralatan dan perabot yang dikerjakan. Ia tak bisa membuat stok karena keterbatasan dana.

“Semua perabot yang kita buat hanya berupa pesanan orang. Kalau ada yang pesan, kita buat. Hanya satu dua yang kita jadikan stok atau contoh karena tidak punya uang lebih untuk membuat stok,” jelasnya.

Memang, ada beberapa relasi yang ia miliki dari tempatnya bekerja sebelumnya. Tetapi masih saja mengalami keterbatasan. Kemudian muncul gagasan dalam pikiran Datuak untuk menjalin kerjasama dengan Cempaka, sebuah badan perkreditan yang memberikan pinjaman kepada masyarakat untuk pembelian alat-alat elektronik. Peluang pemasaran melalui lembaga itu mulai menampakkan hasil.

“Untungnya memang sangat kecil. Mereka beli dengan kita dengan tunai, nanti dia jual ke konsumennya lebih tinggi karena ditambah bunga. Tetapi pemasarannya cukup lancar. Dalam hal ini kita baru bisa memperoleh keuntungan yang lumayan bila ada pembeli langsung ke tempat kita,” kata Datuak yang mengaku omsetnya kala itu belum mencapai 10 juta rupiah perbulan.

Meski hanya pas-pasan, keuntungan itu bagi Datuak cukup menjadi motivasi. Karena ia yakin, dari mengamati perkembangan penjualannya, prospek dalam perabotan aluminium cukup bagus. Ia melihat kecendrungan masyarakat yang mulai beralih dari perabotan kayu kepada aluminium dan kaca.

Sejak tahun 2007, setelah dibantu kedua kalinya, perkembangan usaha Datuak semakin pesat. Ia tidak hanya membuat perabotan seperti lemari, rak piring atau jemuran aluminium. Ia juga membuat etalase makanan di restoran dan rumah makan. Membuat pintu kamar mandi, mendisain bagian dalam mobil penjualan juice buah.

“Kita juga membuat gerobak jalan untuk penjual makanan seperti soto dan gorengan. Trend penjualan jus dengan mobil memberi dampak sangat bagus bagi usaha aluminium kita,” jelasnya.

Sekarang, Datuak sudah memiliki cabang usaha di Limbanang Payakumbuh. Tokonya yang berukuran 4 x 10 meter itu juga sudah memenuhi permintaan pesanan untuk kawasan Payakumbuh. Biaya operasional dan pengeluaran dari usaha disitu, menurut Datuak sudah bisa ditutupinya sendiri. Artinya cabangnya itu sudah mandiri. Tetapi dalam hal pembuatan atau pesanan yang agak spesifik, masih tetap didukung dari tenaga yang ada di Padang.