[ibu-rumah-tangga-sukses-kembangkan-bubur-bayi]
24 Apr 2012
Tak perlu repot memikirkan bisnis apa yang ingin Anda buat. Jika kita jeli, apapun yang ada di sekitar kita bisa dimanfaatkan. Contoh saja apa yang digeluti Nadya Juwita. Berawal dari niat memberi makanan yang sehat bagi anak-anaknya, saat ini ia sukses mewaralabakan usaha makanan bayi berbendera Bebi-Luck hingga mencapai lebih dari 40 gerai.
Berawal dari kekhawatiran akan makanan-makanan instan yang dijual di pasaran, Nadya mencoba membuat sendiri makanan untuk putra kembarnya dengan menggunakan bahan dasar organik. Tanpa disangka, ternyata si buah hati sangat menyukai makanan kreasi sang bunda.
Tetangga penasaran, kemudian nitip dibuatkan makanan untuk anak-anaknya juga. Ternyata anak-anaknya pada suka. Dari sini saya lihat peluangnya besar untuk dikembangkan, kenangnya saat ditemui Ciputra Entrepreneurship beberapa waktu lalu di kantor Bebi-Luck di kawasan Tangerang, Banten.
Nadya merasa harus berbuat sesuatu untuk anak-anak Indonesia. Ia melihat kesibukan para orangtua sehingga memasrahkan gizi anak-anak mereka ke pembantu atau makanan instan. Padahal ujarnya, gizi terbaik tentu didapatkan dari makanan-makanan yang berbahan dasar segar, dan penyajian yang bersih.
Atas dasar keprihatinan inilah, Nadya mengembangkan Bebi-Luck agar semua anak bisa mendapatkan gizi yang cukup sehingga tumbuh kembang mereka pun baik. Harga per porsinya hanya Rp 2500 jadi sangat terjangkau oleh yang menengah ke bawah sekalipun. Memang tujuan kita mau meningkatkan gizi anak-anak jadi harus bisa dibeli oleh semua lapisan masyarakat, ungkapnya.
Saat ingin mengembangkan Bebi-Luck ini, kendala terbesar yang dihadapi Nadya adalah ia tidak memiliki pengetahuan maupun pengalaman di bidang ilmu gizi. Karena tekad bulatnya, akhirnya Nadya mencari pengetahuan dasar mengenai gizi dari internet dan berbagai buku.
Saya nekat-nekatan coba buat dari protein hewan seperti hati ayam, ikan laut, dan sebagainya. Pas dicoba sama anak tetangga yang susah makan ternyata anak itu jadi lahap, ujar wanita yang rela meninggalkan profesi sebagai penerjemah bahasa Jepang ini demi anak kembarnya.
Selain belajar dari dunia maya dan dari buku, Nadya juga belajar langsung dari seorang ahli gizi. Proses belajar ini ia lakoni selama sebulan penuh. Setelah selesai belajar, ternyata pesanan bubur dari para tetangga sudah membeludak.
Untuk mencapai cita-citanya memperbaiki gizi anak Indonesia, Nadya kemudian memberanikan diri menyebarluaskan Bebi-Luck ke masyarakat dengan sistem waralaba. Dengan modal Rp 8,5 juta, Nadya menajak masyarakat untuk berpartisipasi menyehatkan generasi penerus bangsa.
Bahan makanan kita kirim per paket seminggu sekali. Kita juga kasih alat masak khusus, jadi mitra-mitra Bebi-Luck tinggal memasukkan semua bahannya, kemudian tinggal tunggu matang, ungkapnya.
Bebi-Luck mengkhususkan diri sebagai penyedia makanan bagi anak umur 6-18 bulan. Terdapat 2 jenis makanan, yaitu bubur dan nasi tim. Bubur ditujukan untuk anak berumur 6-8 bulan, sedangkan bagi anak 9 bulan ke atas disarankan mengkonsumsi nasi tim.
Namun demikian, sifat makanan ini hanya untuk Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). Nadya menekankan pentingnya ASI sebagai asupan utama bagi anak umur 6-18 bulan. Asupan utama yang terbaik jelas ASI. Nasi tim dan bubur ini sebagai pelengkap, terang ibu 3 anak ini.
Gerai-gerai Bebi-Luck dibuka dari pukul 06.00 pagi. Menurutnya, biasanya dalam waktu 1,5 jam saja bubur dan nasi tim sudah diserbu pembeli. Biasanya para pelanggan membeli produknya untuk makan 1 hari anak mereka.
Anak-anak memiliki sifat cepat bosan. Untuk itu Nadya mensiasatinya dengan membuat menu yang berbeda setiap hari. Misalnya, untuk hari Senin menunya adalah bubur dan nasi tim dengan campuran daging sapi giling, brokoli, dan tahu. Sedangkan untuk Selasa tersedia ikan teri medan, tempe, dan labu siam.
Selain bubur dan nasi tim, Nadya juga menyediakan camilan berupa pudding susu buah, sup bening, kukis bayi, dan sari kacang. Untuk cemilan ini harganya pun bersahabat, antara Rp 3-5 ribu per porsinya. Cemilan ini malahan banyak juga orang tua yang beli. Biasanya untuk kakek atau nenek, ujarnya.
Ke depan, Nadya berencana ingin mengembangkan Bebi-Luck dengan membuka versi restorannya. Dasar pemikirannya itu kalau kita makan di food court hampir tidak ada yang menyediakan makanan khusus anak. Orangtuanya makan macam-macam, anaknya paling hanya makan ayam goreng, katanya mengakhiri obrolan. (*/ian)