[bandara-pun-harus-dikelola-dengan-entrepreneurship-] Bandara pun Harus Dikelola dengan Entrepreneurship

Bandara pun Harus Dikelola dengan Entrepreneurship

26 Jun 2012

ir_ciputra_global_airport_2012_workshop_26_juni_2012

CE News, Jakarta: Seiring dengan naiknya angka lalu lintas penumpang di Bandara Soekarno Hatta, diperlukan sebuah upaya komprehensif untuk mengembangkan bandara tersebut dengan lebih profesional agar memenuhi standar internasional. Bandara memegang peran penting, tak hanya sebagai pintu gerbang masuk keluarnya orang antarnegara tetapi juga menjadi potensi ekonomi yang tidak kalah besar jika digarap dengan pola manajemen yang entrepreneurial.

Ir. Ciputra yang juga turut hadir bersama Burdiarsa Sastrawinata selaku Presiden INTA (International Urban Development Association) dalam “Global Airport 2012 Workshop” di Ritz Carlton Hotel Jakarta siang tadi mengatakan, inisiatif dari Angkasa Pura untuk menerapkan konsep airport city patut diapresiasi.

Begawan properti yang juga didaulat memberikan sepatah kata di depan hadirin lokakarya tersebut menjelaskan bahwa bandara seyogyanya tidak melulu menjalankan satu fungsi tradisional, yaitu sebagai tempat persinggahan pesawat udara saja. Menurut Ir. Ciputra, satu bangunan jangan hanya memiliki satu fungsi saja tetapi harus berbagai macam fungsi. Ia mengaitkan konsep airport city sebagai penerapan superblock dalam industri penerbangan yang dikaitkan dengan bidang yang lebih luas lagi. “Dalam superblock, kita bisa menemukan semua kebutuhan hidup dalam satu tempat. Bandara kita juga idealnya demikian,” ujar Pak Ci.

Kelengkapan fasilitas dan infrastruktur di bandara Indonesia membuat orang-orang yang beraktivitas di dalamnya harus keluar bandara untuk melakukan kegiatan yang sebenarnya vital tetapi tidak diakomodasi oleh pihak pengelola bandara dengan baik. Misalnya saja, Ir. Ciputra mencontohkan, sebuah bandara perlu memiliki pusat suplai, pusat rekreasi, tempat pariwisata, office, rumah sakit, dan sebagainya. “Semua mesti lengkap agar saat orang yang ada di dalam bandara tidak kerepotan ke luar. Bahkan jika orang yang beraktivitas di dekat bandara, bisa mampir ke bandara untuk memenuhi kebutuhannya.”

Tak ketinggalan, ia juga mengkritisi bahwa bandara di Tanah Air harus mendekatkan orang-orang yang banyak berkegiatan di bandara bukan justru melepaskan mereka ke lingkungan tempat tinggal yang jauh dari bandara. “Suplai logistik seperti makanan dan bahan bakar minyak yang diperlukan lingkungan bandara harus disediakan sedekat mungkin. Jika mungkin bisa didekatkan dengan kawasan berikat sehingga saat impor, kita bisa rakit sendiri, kemudian ekspor lagi,” rinci entrepreneur berusia 81 tahun ini.

Ir. Ciputra mengatakan belajar dari “best practice” yang menjadi bagian dari entrepreneurship  yang ia terapkan selama ini juga dilaksanakan oleh Angkasa Pura, sehingga tak heran ia memuji Presdir PT Angkasa Pura 1 (Persero) Tommy Soetomo dan Presdir PT Angkasa Pura 2 (Persero) Tri S. Soenoko sebagai pimpinan yang berpola pikir entrepreneurial.

Pembangunan bandara juga hendaknya perlu konsep yang matang dan komprehensif sehingga dalam 50-100 tahun mendatang akan terus terasa pengaruh positif keberadaan bandara tersebut bagi daerah atau negara yang mengelolanya. Untuk itulah, Angkasa Pura memandang perlu untuk belajar dari pengelolaan bandara terbaik dunia, Incheon di Korsel. (*AP)

facebook 

Copyrights © 2009 - 2013