[menentukan-jenjang-karier-di-startup]
01 Aug 2012
Setelah sebuah startup menemukan sebuah model bisnis yang berulang dan mampu meninggalkan tahapan tunas (seed), mereka kemudian memasuki tahapan awal (early)Â (misalnya 20 sampai 50 pegawai) sebelum menuju tahap pertumbuhan yang bercirikan jumlah pegawai di atas 50 orang.
Dengan 5 orang pegawai dalam sebuah startup, setiap orang menjalankan berbagai peran. Kondisinya demikian kacau sehingga topik tentang jenjang karier tak pernah terlintas dalam pikiran mereka yang bekreja di startup. Perlahan saat startup memasuki tahap kematangan menjadi sebuah bisnis yang lebih kokoh dan sekitar 20 orang telah bergabung di dalamnya, akan ada lebih banyak bidang spesialisasi yang muncul dan topik jenjang karier akan menjadi makin sering muncul. Dengan makin dekatnya menuju fase pertumbuhan, jenjang karier merupakan salah satu isu atau topik percakapan yang paling umum dibicarakan.
Startup memiliki kesulitan saat harus menghadapi isu jenjang karier seperti ini. Dengan semua ketidakpastian dalam sebuah bisnis baru, tidak akan ada yang tahu kapan startup bisa bertahan. Apakah itu setahun, dua tahun atau akan berkembang lebih besar dan menjadi perusahaan yang mapan dan meraksasa? Semua itu belum pasti.
Firma konsultan strategi dengan segmen tinggi seperti Bain dan McKinsey memiliki motto “up or out” (maju atau keluar) yang pada dasarnya berarti Anda dipromosikan setiap dua atau tiga tahun atau Anda akan dipecat dan itu terbukti efektif untuk sebuah startup. Untuk sebuah startup, tak peduli seberapa kerasnya Anda mencoba, setiap orang dalam tim tidak akan terlalu banyak berorientasi pada pola kerja entrepreneurial yang mereka sehingga mereka mencintai perasaan yang diakibatkan karena ketidaktahuan apa yang akan dihadapi atau terjadi selanjutnya.
Berikut adalah cara untuk melakukan pendekatan terhadap isu jenjang karier dalam startup yang tengah menuju tahap pertumbuhan: