Dr. Ir. Ciputra saat ini dikenal sebagai sosok penyebar entrepreneurship di Indonesia. Dalam setiap kesempatan, beliau selalu menanamkan pentingnya entrepreneurship untuk membuat bangsa Indonesia maju.
Kiprah Pak Ciputra, diapresiasi oleh Museum Rekor Indonesia (MURI) dengan memberikan dua rekor, yakni sebagai entrepreneur peraih penghargaan terbanyak di berbagai bidang dan penyelenggaraan pelatihan entrepreneurship kepada dosen terbanyak. Pa Ciputra melalui Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC) telah memberikan pelatihan entrepreneurship kepada setidaknya 1.231 dosen. Pak Ciputra pun juga dinobatkan sebagai Entrepreneur of The Year 2007 versi Ernst & Young.
Setelah sukses dengan berbagai mega proyek properti yang ditanganinya, Pak Ci juga terpanggil untuk membantu dunia pendidikan di Indonesia. Untuk itu Pak Ciputra membuat sekolah-sekolah unggulan yang mementingkan proses belajar kreatif untuk menciptakan manusia unggul dengan mengedepankan entrepreneurship. Baca selengkapnya
Ciputra: Lima Persoalan Besar di Sektor Perumahan
Taipan dan pengusaha properti kelas atas, Ciputra, mengatakan ada lima kendala terkait ketidakmampuan sebagian masyarakat Indonesia, khususnya yang berpenghasilan rendah, sulit mengakses Kredit Pemilikan rumah (KPR).
"Kelima persoalan itu adalah birokrasi, politisi, regulasi, korupsi, dan edukasi. Itu yang harus dibenahi secara terus menerus. Hal inilah yang juga menyebabkan pengembang sulit membangun rumah murah dan apartemen bersubsidi.
"Terus terang, saya prihatin dengan sulitnya warga menengah ke bawah mengakses kepemilikan rumah di Indonesia, meski sudah punya pendapatan tetap. Berbeda dengan Singapura yang warganya rata-rata sudah mampu beli rumah," kata Ciputra saat ditemui di Hotel JW Marriot Jakarta Selatan, Rabu (6/2)
Menurutnya, harga tanah di Singapura delapan kali lebih mahal dari rata-rata harga tanah di DKI Jakarta. Tapi hal itu tidak jadi menjadi masalah karena penghasilan masyarakat di sebelah pulau Batam itu, 15 kali lebih tinggi daripada rata-rata penghasilan masyarakat Indonesia.
"Harga tanah di Singapura 8 kali dari Jakarta. Tapi pendapatan Singapura 15 kali dari Indonesia," tutur Ciputra.
Pendiri Ciputra Group ini juga menegaskan, meskipun harga tanah di negeri singa itu selangit namun hampir 100% masyarakat di sana punya rumah. Hal tersebut berbeda dengan Indonesia.
"Orang Singapura hampir 100% punya rumah kalau kita terbalik," tambahnya.
Menurutnya, ada lima kendala kenapa masyarakat berpenghasilan rendah sulit atau bahkan tak memiliki akses ke Kredit Kepemilikan rumah (KPR). Hal senada juga dialami pengembang jika ingin mengembangkan rumah atau apartemen bersubsidi.
"Indonesia ada 5 persoalan yakni birokrasi, politisi, regulasi, korupsi, edukasi. Itu yang dibenahi terus," cetusnya. (bn/www.finance.detik.com)