Move
Close
Lupa nama pengguna?
Lupa Password?
Pendaftaran

mobile-banner-half

jasa

Banner
Banner
Sumarna, Bekas Kuli yang Jadi Juragan Cabai Views :597 Times PDF Cetak E-mail
Kamis, 16 Februari 2012 13:03

Tidak pernah ada yang menyangka jika lelaki paruh baya bernama Sumarna, pemilik kios di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, itu seorang pebisnis ulung beromzet miliaran rupiah. Bisnisnya sih hanya dari berdagang cabai dan sayuran di Pasar Induk. Namun, jangan salah, dari bisnis ini ratusan juta rupiah saban hari mengalir ke kantong Sumarna.

cabai0212Dari kios kecilnya yang ia beri nama Murah Rezeki, Sumarna mampu menjual 1,5 ton cabai merah, 2,5 ton cabai rawit, dan 6 ton bawang per hari. Saat ini harga cabai merah sekitar Rp 25.000 per kilogram (kg), cabai rawit Rp 12.000 per kg, dan tomat Rp 4.500 per kg.

Dari penjualan itu, kini omzet yang dikantongi Sumarna setiap hari mencapai Rp 107 juta atau sekitar Rp 3 miliar per bulan. Dari situ, ia mengaku mendapatkan laba bersih 5 persen-10 persen. "Saya ambil untung bersih dari tomat bisa Rp 500 per kg, dan cabai sekitar Rp 1.000 per kg hingga Rp 2.000 per kg," ujarnya.

Sudah puluhan tahun, ia merintis bisnis ini hingga sebesar sekarang. Semua ini bermula pada awal tahun 1960-an, saat Sumarna merantau dari kampungnya di Serang, Banten, ke Jakarta. Tanpa bekal, ia merantau ke Jakarta. Pilihannya, bekerja serabutan.

Selain menjadi pelayan, ia juga sekaligus menjadi kuli panggul sayuran di Pasar Senen, Jakarta Pusat. Lima tahun pekerjaan ini ia lakoni. Meski penghasilan mepet, Sumarna pandai menabung. Saat tabungannya cukup, Sumarna pun berani membuka lapak sendiri dengan memilih berdagang cabai.

Sumarna mengatakan, pekerjaan sebagai pelayan dan kuli panggul sangat membantunya ketika merintis bisnis ini. Dari sana, ia belajar memperoleh pasokan, dan menjalin relasi dengan pembeli dan pengepul sayur-mayur. Perlahan, usaha berdagang cabai Sumarna mulai berkembang. Setelah lima tahun berdagang di Pasar Senen, sekitar tahun 1970, Sumarna memutuskan pindah lapak ke Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.

Di tempat baru, Sumarna merintis usaha dari nol lagi. "Waktu saya buka di sana, modal saya hanya keberanian, kejujuran, serta kepercayaan dari pelanggan maupun pemasok barang," kata pria yang telah dikaruniai empat anak dan enam cucu ini.

Dari berdagang cabai, Sumarna memiliki empat kios di Blok H Pasar Induk Kramat Jati. Satu kios ia gunakan sendiri untuk berdagang, sisanya disewakan ke pedagang lain. "Satu kios saya sewakan Rp 2 juta per bulan," imbuhnya. Saat ini pasokan cabai, tomat, dan bawang ia peroleh dari Garut, Sukabumi, Padang, serta Bengkulu.

Hasil keuntungan berjualan cabai ia putar untuk membeli tanah dan membeli angkutan kota. "Hasil dagang mesti pandai menyimpan. Dagang harus jujur dan jangan ijo kalau lihat duit," ujarnya.

Dalam waktu singkat, usahanya dari berjualan cabai merah, cabai rawit, serta tomat di pasar induk makin berkibar. Ia pun berhasil melunasi cicilan kiosnya hanya dalam jangka waktu tujuh tahun. Selama sepuluh tahun berjualan, langganan tetap Sumarna adalah para pedagang pasar tradisional di Jakarta. Pada tahun 1980-an, komoditas dagangannya mulai merambah pusat perbelanjaan modern, seperti supermarket.

Pada awalnya, ekspansi ke pasar swalayan itu berjalan lancar. Bahkan, dapat memperbesar pemasukannya. Namun, setelah sepuluh tahun berjalan, penjualannya di pasar modern merosot.  Bahkan, Sumarna sempat merugi ratusan juta lantaran barang yang rusak tidak diganti pihak swalayan. "Lama-kelamaan saya merugi karena mereka ambil barang dulu baru bayar," ujarnya. Akhirnya, pada tahun 1990, Sumarna memutuskan berhenti memasok pasar modern.

Walau tak lagi bermain di pasar modern keuntungan tetap mengalir ke kantong Sumarna. Sebagian besar laba jualan itu ditabungnya di bank. Dari hasil jerih payahnya, jumlah tabungannya mencapai miliaran rupiah. Namun, cobaan kembali menghampirinya. "Duit saya dikorupsi lima karyawan saya yang tidak jujur," ungkap dia penuh sesal.

Sumarna bercerita, penggembosan tabungan dilakukan secara bertahap sejak pada akhir tahun 2010. Pertengahan tahun 2011 ia baru menyadari tabungannya berisi Rp 1,8 miliar ludes dicuri pegawainya. Modus penilapan uang oleh karyawannya sangat merugikan Sumarna. Misalnya, dari pasokan 10 kg tomat, karyawannya hanya membayar ke pemasok sebanyak 3 kg. Tahu-tahu tagihan pembayaran dari pemasok menggelembung. "Jadi tanpa sadar, saya harus membayar pasokan barang sebanyak dua kali," ujarnya.

 

Sebagai seorang pebisnis, Sumarna memiliki jiwa pantang menyerah. Kendati pernah nyaris bangkrut ketika ditipu karyawannya, ia tidak patah arang. "Saat itu modal saya habis, saya sangat syok dan ingin berhenti berdagang," kenang Sumarna.

Lantaran sudah mempunyai jiwa dagang sejak muda, tidak butuh waktu lama baginya untuk mengobarkan lagi semangat wirausahanya. Agar kejadian serupa tidak terulang lagi, ia merekrut karyawan dari kerabat sendiri. "Saya merekrut saudara dari kampung halaman," kata pria asli Serang, Banten, ini.

Untuk menambah modal berjualan, Sumarna melego sebidang tanah miliknya seharga Rp 185 juta. Selang enam bulan, kondisi permodalan usahanya berangsur stabil. Alhasil, stok sayuran di kiosnya tetap tersedia dalam jumlah memadai. Tak heran bila kiosnya tetap diburu pelanggan dari kalangan pedagang pasar tradisional di Jabodetabek. Saat ini ia mampu melayani penjualan sekitar 1,5 ton cabai merah, 2,5 ton cabai rawit, dan 6 ton tomat per hari.

Kendati usahanya kini semakin membaik, Sumarna belum berencana melakukan ekspansi usaha dan menambah gerai penjualan cabai. Alasannya, usianya kini sudah tidak lagi muda. "Kalau umur saya masih muda mungkin saja ada pemikiran untuk membuka cabang lagi," jelas dia. (*/ian)

 


Another articles:


Add comment


Security code
Refresh

Copyright © 2010-2012 Ciputra Entrepreneurship
All right reserved