Banyak dari kita mendukung praktik tak beretika dengan membeli produk yang dihasilkan oleh produsen yang abai terhadap masalah ini. Sejumlah perusahaan besar menggunakan tenaga kerja yang tidak seharusnya, seperti budak, bahkan budak anak-anak di bawah umur saat melakukan outsourcing pada produksi mereka. Bukan berarti mereka membenci anak-anak tetapi merek alebih peduli pada laba. Di samping itu, mayoritas anak-anak ini bukan warga AS sehingga jarak dan perbedaan kebangsaan itu dianggap sebagai alasan untuk membenarkan ketidakdilan tersebut. Berikut merupakan 5 perusahaan yang menggunakan tenaga kerja anak dengan upah amat rendah untuk memproduksi sesuatu yang bisa jadi Anda miliki di rumah sekarang.
Philip Morris
Pada tahun 2010, perusahaan ini “dipaksa mengakui” bahwa setidaknya 72 anak bekerja di perkebunan tembakau yang menjual produknya ke Philip Morris (PM). Sebagian berusia 10 tahun. Human Rights Watch membongkar kasus perbudakan anak tersebut di perkebunan tembakau Kazakhstan, yang membuat PM harus turut bertanggung jawab. Menggunakan budak anak-anak (yang menderita gangguan kesehatan akibat tembakau) bukan hanya pelanggaran kemanusiaan yang dilakukan PM. Perkebunan yang menjual 1500 ton tembakau ke PM di tahun 2009 dan jumlah besar lain ke perusahaan rokok Rusia menggunakan buruh migran sebagai budak mereka, sering memalsukan paspor dan memaksa mereka untuk bekerja lembur tanpa kompensasi apapun.
Meski sudah ada upaya dialog teratur dan konstruktif antara Human Rights Watch dan Philip Morris tahun 2010 yang lalu, ditemukan bahwa PM gagal memenuhi janjinya terkait dengan pemberhentian praktik ilegaal dan tidak etis ini. Jika Anda ingin menunjukkan simpati atas buruh yang diperlakukan kurang manusiawi oleh PM ini, Anda bisa menghindari membeli produk-produk berikut Marlboro, Basic, Benson & Hedges, Cambridge, Chesterfield, Commander, Dave’s, English Ovals, Lark, L&M, Merit, Parliament, Players, Saratoga dan Virginia Slims.
Victoria’s Secret Victoria’s Secret mengumumkan pihaknya membeli bahan katun yang sudah memenuhi standar perdagangan yang adil (fair trade), lalu apa masalahnya? Ternyata itu hanya kamuflase belaka.Di Burkina Faso Afrika, banyak perkebunan fair trade yang mengkliam bahwa mereka kekurangan sumber daya manusia untuk menanam kapas tanpa menggunakan tenaga kerja anak. Bloomberg.com melaporkan satu kasus yang menimpa Clarisse yang masih berusia 13 tahun yang harus tidur beralas selembar plastik dan dibangunkan tiap pagi buta dengan teriakan yang tak menyenangkan. Ia menanam dan memetik kapas tiap hari, berpeluh dan lelah dengan tergesa setiap harinya. Ia tidak diperkenankan ke mana-mana tetapi “majikannya” akan memukul dengan ranting jika ia bekerja lambat. Tanggapan Victoria’s Secret terhadap isu ini sama sekali tidak menunjukkan itikad baik bahkan terkesan abai. Tahun 2008 muncul laporan dari Helvetas yang mengatakan bahwa ratusan anak memiliki nasib sama atau berisiko bernasib serupa dengan Clarisse yang malang itu. Pihak VS mengatakan ketidaktahuannya mengenai masalah tersebut.
Namun beberapa saat setelah itu, VS mengumumkan sebuah pernyataan pada publik: “Semua pelanggaran itu bertolak belakang dengan prinsip perusahaan dan kode etik tenaga kerja dan standarnya yang sudah kami wajibkan untuk diterapkan semua pemasok kami. Standar kami secara jelas melarang tenaga kerja anak. Kami bekerjasama dengan para pemegang saham untuk menyelidiki masalah ini dengan lebih mendalam”.
Itu sudah terjadi di tahun 2011. Sejak itu, VC Cuma menempuh langkah penghapusan label “fair trade” dari pakaian dalam katun dari Burkina Fasso mereka.
KYE dan Pabrik China Lainnya
Di tahun 2010, Komite Tenaga Kerja Nasional mengecap KYE, satu pemasok, yang diketahui menggunakan tenaga kerja anak. Sebanyak kira-kira 1000 anak (berusia di bawah 18 tahun) direkrut untuk bekerja 15 jam sehari selama seminggu penuh. Tak Cuma itu, KYE turut merekrut wanita berusia 18 sampai 25 tahun yang dianggap lebih mudah dikendalikan.KYE membayar pekerjanya 65 sen per jam. Pegawai KYE sering diwajibkan melapor di pagi hari buta untuk mengikuti rutinitas ala militer yang tidak diperlukan. Suhu dalam pabrik sering sangat gerah dan tidak sehat, pendingin udara tak tersedia. Kasus pelecehan seksual yang dilakukan penjaga keamanan perusahaan sering mencuat. Mendengarkan musik dan berbicara saat bekerja adalah kegiatan terlarang. Sebanyak 14 karyawan dijejalkan dalam 1 kamar asrama. Untuk mandi, mereka hanya disediakan spons dan ember plastik berisi air. Dan tentu saja KYE mengklaim kondisi dalam pabrik-pabriknya jauh dari kesan tersebut di atas.
Microsoft merupakan perusahaan yang paling sering dikritisi untuk penggunaan tenaga kerja anak dan budak dari KYE ini, tetapi pegawai KYE juga membuat produk seperti XBox, HP, dan produk perusahaan elektronik lainnya. Namun, perusahaan besar lain seperti Apple juga sudah mengakui (akhir-akhir ini) telah menggunakan tenaga kerja pabrik di China yang memaksa tenaga kerja anak dengan jumlah jam kerja yang di atas normal di dalam kondisi pabrik yang memprihatinkan. Sementara Nokia adalah pabrikan lain yang turut bertanggung jawab.
Anda mungkin ingin tahu mengapa perusahaan-perusahaan itu bersusah payah menyusun kode etik dan perilaku padahal toh mereka melanggarnya. Itu agar lebih banyak orang yakin dengan citra yang mereka gemborkan. Dan setiap orang menginginkan iPhone atau komputer canggih dan ramping sehingga mereka enggan mengakui sudah berkontribusi dalam pelestarian upaya eksploitasi tenaga kerja anak.
Terkait pembelian kapas dari perkebunan yang menggunakan tenaga kerja anak, Forever 21 mengatakan bahwa pihaknya “memasuki perjanjian komprehensif yang mewajibkan pemasok dan vendor untuk berjanji menggunakan tenaga kerja yang tidak melanggar ketentuan hukum”. Sebagian pihak mengkritisi upaya itu sebagai tindakan cuci tangan yang tak cukup memecahkan masalah.
Forever 21 gagal menunjukkan kepedulian yang diperlukan mengenai hukum tenaga kerja di Uzbekistan, negara yang menjadi produsen kapas yang mereka beli. Di sana, pemerintah sebenarnya bahkan tidak mendukung penghapusan tenaga kerja anak. Namun siapa peduli? Forever 21, Aeropostale, Toys ‘R’ Us, atau Urban Outfitters; semua perusahaan ini mendapatkan pasokan katun mereka dari Uzbekistan sementara 70toko ritel besar lain mengaku telah berkomitmen memecahkan masalah tenaga kerja anak di industri kapas Uzebkistan.
Hershey’s Hershey’s baru-baru ini meluncurkan jajaran produk coklatnya, Bliss Chocolate, yang hanya akan dibuat dengan menggunakan biji coklat yang disertifikasi oleh Rainforest Alliance. Jangan terlalu gembira. Alasan satu-satunya untuk melakukan upaya “etis” ini ialah untuk menghindari International Labor Rights Forum menayangkan iklan yang berisi tentang penggunaan tenaga kerja anak oleh Hershey’s.
Kampanye tandingan bernama “Raise the Bar” diluncurkan untuk menyampaikan pesan anti tenaga kerja anak melawan ketidakpedulian perusahaan besar seperti Hershey yang Cuma mencemaskan tentang ancaman penodaan citra perusahaan dan pemasukan potensial yang bisa terenggut. Di Afrika Barat, ribuan anak masih dipekerjakan memanen biji coklat untuk Hershey’s dan investasi mereka dalam Bliss Chocolate hanya membuat sedikit perbedaan dalam produk lainnya yang menggunakan tenaga kerja anak. (*AP)