Jakarta Skin Center (JSC), terutama bagi kalangan wanita kelas menengah Jakarta, merupakan tempat favorit. Maklum, klinik ini bisa menyulap wajah bopeng menjadi licin, kenyal, bercahaya, putih seputih susu dan tanpa keriput, laksana Dewi Aphrodite. Dengan beragam teknologi perawatan yang dimilikinya, klinik ini memberikan solusi untuk mendapatkan kulit indah dan sehat.
Dari waktu ke waktu JSC terus dibanjiri kaum Hawa — tak ketinggalan para lelaki — pendamba kecantikan. Industri kecantikan yang kerap memamerkan sosok langsing, putih, mulus dan muda membentuk dogma: cantik itu putih. Tak heran, banyak wanita berlomba mempercantik diri dengan beragam cara. Inilah yang membuat banyak orang berbondong-bondong menyambangi dokter ahli kulit untuk mendapatkan warna kulit lebih putih.
Menurut Dirut JSC dr. Aryani Sudharmono, SpKK(K), klinik di kawasan Radio Dalam ini merupakan klinik medical skin center pertama, terlengkap dan termodern di Jakarta, bahkan Indonesia. Layanan medis yang ditawarkan, antara lain dermatologi dan venereologi umum, bedah laser (memiliki lima alat laser dengan pelbagai kegunaan), bedah beku (cryosurgery), bedah listrik (electrosurgery), peremajaan kulit (skin rejuvenation), sedot lemak (liposuction), injeksi botox, injeksi kolagen, transplantasi rambut dan bedah plastik (rekonstruktif). Intinya, dari membuang kutil, tahi lalat, jerawat, bercak hitam, kantung mata sampai sedot lemak, menghilangkan kerutan serta bedah plastik untuk memancungkan hidung, melancipkan dagu, hingga memperindah payudara.
Berdiri pada 1993, JSC yang buka setiap hari kerja, termasuk Sabtu mulai pukul 09.00 sampai 20.00 WIB, sekarang memiliki dua klinik: reguler dan eksekutif. Biaya konsultasi dipatok Rp 90-150 ribu. Sementara itu, untuk tindakan medis dan obat tergantung jasa yang dipakai. Obat pemutih saja paling murah dipatok Rp 100 ribuan. Adapun sedot lemak, Rp 10-15 juta, tergantung bagian tubuh yang dibuang lemaknya.
Sebagai one stop skin center, setiap pasien yang datang langsung diperiksa oleh dokter spesialis kulit dan diberikan pengobatan atau produk perawatan yang tersedia di apotek JSC. “Jadi, pasien tak perlu mencari obat-obatan khusus kulit di luar,” ujar Aryani, yang juga putri mantan Wapres Sudharmono.
Menurutnya, JSC mengelola layanan kesehatan kulit secara profesional. Pihaknya mengikuti tren ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir sesuai dengan masyarakat pengguna jasa dan menjadi unggulan di Asia Tenggara. “Memberikan pelayanan secara paripurna yang berorientasi pada kepuasan pelanggan,” ia menambahkan. Keunggulan JSC, katanya, seluruh pelayanan dilakukan di bawah penanganan langsung tim dokter spesialis kulit yang terpadu dan masing-masing mempunyai minat, kemampuan dan skill superspesialistis.
Aryani menjelaskan, layanan yang paling diminati adalah pelayanan dermatologi kosmetik — segala bentuk kelainan dan penyakit kulit yang ringan sampai berat yang dapat mengganggu penampilan. “Segala sesuatu yang berhubungan dengan meremajakan kulit dan berpenampilan lebih muda,” ungkapnya. Semisal kulit yang kasar/kusam menjadi lebih halus dan segar, kulit yang keriput/kendor menjadi lebih kencang. Sayang, ia tak mau menyebut besar pangsa pasar untuk layanan jasa itu. “Saya tidak tahu persis angkanya,” kilahnya.
Sementara itu, menurut Sutirto, dari semua layanan yang ditawarkan, perawatan muka paling banyak diminati kaum hawa. Maraknya tren wanita memutihkan kulit ini ia tengarai karena pengaruh bombardir iklan produk pemutih kulit dan banyaknya media yang memublikasikan para wanita yang habis-habisan mempercantik diri, khususnya memutihkan kulit. Ia menjelaskan, waktu yang dibutuhkan pasien untuk terapi pemutihan kulit, 2-3 bulan. Dalam 1-2 minggu minimal berkunjung sekali. “Setelah tiga bulan masih wajib datang untuk kontrol, tapi frekuensinya tidak terlalu intens,” jelasnya.
Psikografis pelanggan JSC, para remaja putri (SMA dan mahasiswa) dan wanita dewasa (usia di atas 30 tahun). Pengusaha, artis, selebriti, ibu-ibu pejabat tercatat sebagai pasien JSC. Sayang, Aryani keberatan menyebutkan nama-nama orang beken yang menjadi pelanggannya dengan alasan tidak etis. “Mereka biasa datang sendiri, bersama keluarga atau rombongan,” ujarnya. Rombongan di sini maksudnya bisa teman arisan, klub olah raga atau organisasi yang diikuti.
Masalah yang dikeluhkan berbeda antara wanita muda dan dewasa. Anak muda biasanya ingin memutihkan seluruh tubuh atau menghilangkan jerawat, sedangkan wanita dewasa umumnya ingin menghapus flek, kerut, kutil, benjolan, bahkan tahi lalat di wajah. Nah, jika noda-noda hitam itu sudah sirna, giliran menyulap wajah menjadi mulus dan putih. Dan, wajah pun jadi kinclong.
Ia mengatakan, selama ini JSC menerapkan strategi pemasaran dengan memberikan pelayanan terbaik, memenuhi etika kedokteran dan bertanggung jawab pada masyarakat di bidang kesehatan kulit. JSC tergolong tidak gencar berpromosi. Promosi yang dilakukan secara langsung, antara lain, memasang iklan di Yellow Page, membuat home page di Internet (www.SkinJSC.Com) dan buletin Jakarta Skin Media. Untuk promosi tidak langsung, misalnya membuat brosur tentang jenis pelayanan di JSC, artikel di berbagai media dan mengadakan seminar atau simposium tentang kesehatan kulit.
Menurut Sutirto, strategi promosi JSC lebih banyak word of mouth, sehingga jarang beriklan. “Promosi dari mulut ke mulut lebih efektif,” ujarnya. Promosi getok tular itu mampu menyedot pengunjung tidak hanya dari Jakarta dan Jabotabek, tapi juga luar kota, luar Jawa, bahkan luar negeri, seperti Malaysia, Singapura dan Hong Kong.
Bagi JSC, maraknya klinik serupa tak membuat pihaknya terancam. Menurut Sutirto, JSC memiliki tiga kunci menuai sukses yang selama ini terbukti mampu menyedot pasien. Pertama, memberi pelayanan maksimal. Kedua, memberikan hasil yang memuaskan. “Tidak sekadar jual kecap, sehingga pelanggan yang sudah puas itu akan merekomendasikan kepada orang lain,” katanya. Ketiga, menerapkan konsep one stop service: dari jasa konsultasi, pengobatan hingga tindakan lansung seperti operasi (bedah laser) bisa dilakukan. “Untuk menyakinkan pelanggan, cukup dengan bukti nyata dan layanan memuaskan,” Sutirto menegaskan.
Comments
RSS feed for comments to this post.