Nama resto ini Karnivor. Bisa dibayangkan, begitu mendengar namanya, menu apa saja yang akan ditawarkan. Daging, daging, dan daging. "Menu andalan kami semuanya memang berbahan dasar daging," ujar Eric Lowell, General ManagerRestoran yang berada di antara distro di Jalan Riau, Bandung, ini.
Menurut pria 23 tahun itu, saat resto didirikan, ia dan teman-temannya memang berkeinginan membangkitkan masa zaman dinosaurus. Maka tema yang diusung pun "let's meet our meat". "Kami ingin menumbuhkan kesan brutal, buas, dan besar, seperti era para pemakan daging dulu," ujarnya.
Menu andalan pertama yang ditawarkan Karnivor adalah iga jumbo. "Untuk iga jumbo, biasanya kami memilih iga dengan tulang kecil," ujar Eric. Iga bakar ini dimasak dengan teknik yang unik dengan daging pilihan. "Kami pilih sapi-sapi dari Australia dan masih muda, kemudian kami pelihara sebentar di Indonesia sebelum dipotong," lulusan Universitas Toulouse, Prancis, ini menjelaskan.
Selain itu, iga jumbo dimasak dengan bahan-bahan campuran dari berbagai negara, seperti Eropa dan Timur Tengah, serta tentu saja dari Indonesia.
Tekstur daging yang lembut dan empuk menambah kelezatan iga jumbo. "Sebelum dibakar, kami rebus dulu selama lima jam dengan rempah-rempah khusus, kemudian kami bekukan, baru dibakar," Eric menerangkan. Rempah-rempah yang dicampurkan selama proses perebusan itu adalah campuran dari tiga resep masak tersebut. "Saya ganti beberapa resep Indonesia, saya masukan razel hanouet (resep campuran khas) dari Eropa dan rempah Timur Tengah."
Resep khas Karnivor yang disajikan panas di atas hotplate dengan hiasan sayuran hijau dan paprika itu membuat kita tergoda mengendus aromanya yang tersebar. Dengan daging seberat setengah kilogram, iga jumbo dapat dinikmati dengan biaya Rp 45 ribu. "Ekonomis sekali kan, bisa dimakan berdua," kata Eric.
Kalau masih kurang, bisa pilih menu lain, misalnya monster steak. Dinamai monster karena bila kita melihat steak ini mata pasti langsung terbelalak. Bagaimana tidak, ukurannya gila-gilaan. "Beratnya 1 kilogram," kata Eric. "Bisa dimakan tiga sampai lima orang."
Harganya juga tak begitu mahal. Untuk steak 1 kilogram ini, kita cukup merogoh kantong dan mengeluarkan Rp 129 ribu. Hanya, monster steak biasanya disajikan pada akhir pekan, bersama kambing guling. "Kalau hari biasa cukup steak saja," ujar penyuka kuliner ini.
Menu lainnya yang bisa menjadi pilihan adalah nasi goreng, kebab, bambu Afrika, sate, dan sup buntut.
Untuk minumannya, kita bisa memilih gorilla punch. Menurut Eric, minuman segar ini cocok disandingkan dengan monster steak ataupun iga jumbo. Cita rasanya campur: ada asam dan manis.
Apalagi sambil makan menikmati dinginnya Bandung. Lengkap sudah kenikmatan yang didapat. Pepohonan yang membuat suasana terasa di tengah hutan menambah kenyamanan makan. Hutan "liar" ini juga menambah suasana seolah kita kembali ke masa kejayaan dinosaurus. (*/Tempointeraktif)