Kemarin (20/2), Ciputra Group yang diwakili oleh Ir. Antonius Tanan diundang ke kota San Franciso, tepatnya di Ritz Carlton Half Moon Bay untuk menghadiri undangan dari Kauffman Foundation--yayasan terbesar di dunia dalam pengembangan entrepreneurship--dalam acara Kauffman Global Partner Network. Dalam perhelatan tersebut, sebanyak perwakilan dari 12 negara diundang. Dan terasa sangat membanggakan karena Universitas Ciputra Entrepreneurship Center (UCEC) mendapat kesempatan presentasi pertama di antara 12 negara tamu Kauffman Foundation. Kauffman menilai apa yang kami rintis selama ini di Indonesia patut menjadi teladan bagi banyak negara lain yang ingin menyebarkan semangat entrepreneurship.
Adapun hari ini (21/2), Kauffman Global Partner Meeting masih berlanjut dan beberapa catatan penting bisa dibagikan dengan Anda, para entrepreneur dan calon entrepreneur di Indonesia.
Kami ingin meluruskan beberapa pandangan keliru tentang entrepreneurship berikut ini:
Pandangan salah 1: Asal punya modal bisa jadi entrepreneur. Pandangan salah 2: Asal punya barang bisa jadi entrepreneur. Pandangan salah 3: Asal bisa bikin proposal maka bisa jadi entrepreneur.
Ingatlah bahwa berentrepreneur bukan hanya berdagang. Berentrepreneur adalah perubahan mindset (cara pandang), karakter, kecakapan hidup dan pengetahuan. Mengubah kotoran dan rongsokan jadi emas dimulai dengan mengubah diri terlebih dahulu, diri sendiri dibangun sehingga memiliki kualitas "emas."
Oleh karena pemberdayaan entrepreneurship di masyarakat dimulai dengan membangun budaya yang entrepreneurial, pendidikan serta pelatihan sistematis untuk jadi sosok entrepreneurial. Bukan sekadar bisa membuat rencana bisnis atau proposal bisnis.
Inilah yang dikagumi oleh Lesa Mitchell Vice President dari Kauffman Foundation bahwa saya beserta Universitas Ciputra Entrepreneurship Center mampu menciptakan pondasi entrepreneurship dengan membangun budaya entrepreneurship dan menciptakan pendidikan yang berbasis entrepreneurship. Ini pendekatan yang berbeda dibandingkan negara-negara lain.
Menurut Lesa, ini sebuah pandangan jauh ke depan (long view) dan tidak terkunci pada desakan jangka pendek yaitu bagaimana secepatnya ditumbuhkan banyak "entrepreneur baru." Bukankah yang berkualitas memang membutuhkan "tempaan" yang berbeda dan waktu yang tidak singkat?