Move
Close
Lupa nama pengguna?
Lupa Password?
Pendaftaran

mobile-banner-half

jasa

Banner
Banner
Zat Pewarna dari Daun Indigofera Views :2300 Times PDF Cetak E-mail
Kamis, 26 Agustus 2010 13:34
Selama ini, tanaman Indigofera yang biasa tumbuh di tanah berpasir dan lahan kritis tidak dimanfaatkan. Padahal, jika bisa mengolahnya, tanaman ini bisa bernilai jual tinggi. Misalnya, tanaman yang memiliki daun berwarna hijau tua dan berbentuk oval ini bisa diolah menjadi pewarna kain batik dan kain tekstil lainnya.

Shinta Pertiwi, mahasiswi Strata 2 (S-2) Jurusan Teknik Kimia Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, bersama dua rekannya berhasil mengolah daun Indigofera menjadi zat pewarna kain tekstil khusus berwarna biru. "Kami sudah memperkenalkannya sejak tahun lalu. Dan tahun ini akan mulai kami komersialkan," kata Shinta.

IndigoferaMenurut dia, kendati saat ini belum dijual secara komersial, peminat zat pewarna olahannya cukup banyak. Tidak hanya pembeli lokal, peminatnya juga ada yang dari luar negeri. Di antaranya Jepang dan Korea. "Saat ini pembeli dari Jepang minta antara 200 kilogram (kg) sampai 300 kg," ujar perempuan 26 tahun ini.

Sayangnya, lanjut Shinta, mereka baru bisa memproduksi maksimal 100 kg per bulan. Penyebabnya, keterbatasan sumber daya. Dengan demikian, sampai saat ini Shinta belum mampu memenuhi semua permintaan yang datang. Termasuk, permintaan pembeli dari Jepang dan Korea.

Shinta dan teman-temannya menjual pewarna yang diberi nama Gama Indigo Natural Dye tersebut dengan harga Rp 700.000 per kg. Dus, dengan harga jual sebesar ini, dalam sebulan tiga sekawan itu meraup omzet Rp 70 juta.

Melihat besarnya potensi pendapatan dan pesanan, di akhir tahun ini, Shinta berencana meningkatkan produksinya minimal dua kali lipat dari kapasitas saat ini. "Kami sudah dapat pabrik yang mau memproduksinya. Minimal nanti produksinya bisa bertambah menjadi 200 kg," katanya. Pabrik itu sendiri memiliki kapasitas produksi hingga 6,5 ton per tahun.

Mengenai pasokan bahan baku tanaman Indigofera, Shinta sudah memiliki pemasok langganan, yang memiliki area penanaman seluas 9 hektare. Terdiri atas tiga hektare di Bantul, Yogyakarta, dan enam hektare di Brebes. "Bisnis zat pewarna alami ini juga bisa mendatangkan peluang usaha baru bagi petani yang mau menanam pohon Indigofera di lahan tidak terpakai," imbuhnya.

Untuk membuat 1 kg serbuk zat pewarna Gama Indigo dibutuhkan sekitar 250 kg daun Indogofera. Otomatis, jika ingin memproduksi secara besar-besaran, dibutuhkan banyak pasokan daun Indigofera.

Kendati butuh pasokan bahan baku yang banyak, hasil yang didapat dari zat pewarna ini memuaskan. Sebanyak 25 gram serbuk Gama Indigo bisa digunakan mewarnai dua lembar kain batik berukuran standar 3x1,5 meter.

Shinta tidak menampik, banyaknya pasokan bahan baku yang dibutuhkan turut mempengaruhi mahalnya harga jual zat pewarna buatannya. Ini jika dibandingkan dengan zat pewarna kimia yang banyak beredar di pasaran seharga Rp 60.000 per kg. Tapi, dia menyakini bahwa dari sisi kualitas, warna alami Gama Indigo tergolong lebih lembut dan tahan lama.

Yang tak kalah penting, zat pewarna ini lebih aman digunakan dan tidak menghasilkan limbah ketika melakukan proses pewarnaan pada kain. Karena terbuat dari bahan alami.

Berbeda dengan zat pewarna kimia yang dapat mencemari lingkungan dan menimbulkan berbagai penyakit kulit, seperti kanker kulit. "Karena menggunakan zat pewarna kimia, produk batik kami juga sulit diekspor ke Eropa," kata Shinta.

Asal tahu saja, ada sejumlah tahapan yang dilakukan Shinta dan rekan-rekannya dalam memproduksi zat pewarna Gama Indigo.

Pertama, mereka memilih daun Indigofera berumur 5-6 bulan atau yang sudah dianggap tua. Salah satu ciri yang menandakan daun Indigofera sudah tua biasanya berwarna hijau kebiruan dengan biji berwarna cokelat kehitaman. Setelah itu, daun direndam di dalam bak selama beberapa waktu hingga daun menjadi layu.

Selanjutnya, ada delapan tahapan proses yang memakan waktu sekitar 18 jam. Di antaranya, proses hidrolisis, yaitu penguraian zat warna glukosa indikan sampai proses oksidasi selama sekitar 12 jam di dalam bak. Hingga akhirnya, semua proses tersebut menghasilkan endapan pewarna biru dari Indigofera.

Agar bisa menjadi serbuk, sebelumnya endapan itu harus melalui proses pemanasan hingga kering. Baru setelah itu melakukan proses fermentasi hingga menjadi serbuk zat pewarna.

Shinta mengaku baru belakangan ini memproduksi zat pewarna indigo dalam bentuk serbuk. Sebelumnya, dia memproduksi dalam bentuk pasta. Namun, karena bentuk pasta tidak bisa bertahan lama akibat munculnya jamur, dia memilih bentuk serbuk.

Shinta berharap, produknya bisa lebih diterima pasar melalui inovasi tersebut. "Saya berharap, dengan hadirnya zat pewarna alami, produk tekstil kita lebih diterima di mancanegara. Sehingga, potensi ekspor tekstil kembali terangkat," kata Shinta, yang kini menjabat Manajer Produksi dan Pemasaran Gama Indigo. Berdasarkan risetnya, saat ini kebutuhan zat pewarna di dalam negeri sekitar 10.000 ton per tahun. (*/Kontan)
 


Another articles:


Comments  

 
0 #6 2011-09-21 15:55
Salam Indigofera !
Saya sangat suport dengan Pilot Project nya Fiftyfirst.denim yang berkeinginan membuat denim dengan Bahan Pewarna Alam, dan saat ini kami juga baru bermitra dengan Pengusaha Denim di Jakarta dalam hal Pewarnaan Alam Biru Indigo untuk bahan Jeans nya.
Misal Fiftyfirst.denim berminat bersinergi dalam penclupan indigonya,Insya Alloh kami siap !
Quote
 
 
0 #5 akhlis purnomo 2011-08-03 07:48
Maaf agak terlambat balasnya.
Contact :
Shinta Pertiwi
email :
ph. :+6281 328 310 996
Quote
 
 
0 #4 2011-03-14 14:01
Salam Batik,
Saya juga sedang menekuni pembuatan Batik Tulis dengan Pewarna Alam dan Pembuatan Pewarna Alam Indigofera di Bedono - Semarang ( http://batikcanting100.blogspot.com ) Namun hingga saat ini belum bisa menemukan segment Market nya, mohon Bantuan sekaligus Pencerahan nya,sehingga hasil Produksi Kami bisa berputar dan Cash flow dapat menjadi lancar. Siapapun yang bisa membantu serta bersinergi dengan Kami, sangat Kami ucapkan Banyak terima kasih.
Salam,
Eko BS./08562664389.
Quote
 
 
0 #3 2011-03-10 14:12
Salam Batik,

Saat ini saya sedang menekuni pembuatan batik tulis dengan Pewarna Alam dan sekaligus memproduksi bahan pewarna Alam Indigofera di Bedono-Semarang ( http://batiktuliscanting100.blogspot.com ).

Namun masih belum menemukan Segment Market yang tepat,mungkin ada yang bisa membantu maupun bersinergi dengan Kami,sehingga usaha ini semakin tampak hasil nya.

Saya tunggu respon Positif dari siapapun dan dimanapun berada.

Salam,
Eko BS./08562664389
Quote
 
 
+1 #2 2010-08-31 12:02
Senang sekali bisa membaca ulasan ini
Saya berterimakasih kepada semua pihak yang mengangkat tulisan tentang produk kami ini, semoga bisa bermanfaat..

Shinta P
Quote
 
 
+1 #1 2010-08-30 23:38
salam...

kami sangat bersyukur bisa mendapatkan informasi ini, karena saat ini kami sedang melakukan pilot project untuk membangun produk jeans yang berkualitas dan semaksimal mungkin menggunakan bahan-bahan yang berasal dari dalam negri.

bila pilot project kami ini berjalan sesuai rencana, kami mempunyai target untuk custom bahan denim sesuai spesifikasi yang kami tentukan salah satunya ialah dengan pewarnaan alami.

kami sangat berharap narasumber tulisan ini bisa memberikan contact-nya kepada kami, karena kami membutuhkan lebih banyak informasi tentang produk yang di tawarkan.

berikut adalah alamat blog dan email kami:
http://fiftyfirstdenim.wordpress.com/


salam...
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh

Copyright © 2010-2012 Ciputra Entrepreneurship
All right reserved