Memanfaatkan lele dalam bentuk lain menjadi nilai tambah bagi Murti Rahayu. Pengusaha asal Majenang, Cilacap, Jawa Tengah itu mencoba membuat penganan abon lele dan memanfaatkan kulitnya untuk dibuat keripik.
Kerupuk tengiri memang lebih terkenal sebagai oleh-oleh makanan dari Cilacap, namun bagi Ketua Asosiasi Perajin dan Pengusaha Kecil Distrik Majenang itu tak ada salahnya memperkenalkan camilan ikan air tawar dalam bentuk berbeda. Ketertarikan membuat variasi penganan lele terdorong oleh usahanya membuka warung makan lesehan yang menyediakan berbagai menu ikan air tawar.
Pasokan lele yang melimpah dari kelompok tani perikanan air tawar membuatnya tak kehabisan ide. Masa percobaan selama tiga bulan barulah menghasilkan produk yang akhirnya diterima pasar. "Memang, sebelumnya di Boyolali sudah ada abon lele, tetapi kami mencoba mengenalkan sebagai salah satu oleh-oleh dari Majenang, Cilacap, dan sekitarnya," jelasnya.
Dari 10 kg lele bisa diolah menjadi 3 kg abon. Lele diperoleh dari kelompok tani seharga Rp 11 ribu/kg. Setelah jadi abon, per ons dipatok Rp 10 ribu dan dipasarkan ke berbagai kota antara lain Jakarta, Surabaya, dan kota-kota besar lain di Indonesia.
Selain dagingnya, kulit lele dimanfaatkan menjadi keripik. Namun, jumlahnya sangat terbatas karena dari 10 kg lele hanya menghasilkan sekitar 15 bungkus keripik ukuran 100 gram.
Comments
saya Rahmi seorang mahasiswa..kebetulan penelitian saya adalah tentang pemanfaatan limbah kulit lele.mohon informasi cara pembuatannya.terimakasih
bagaimana cara membuatnya ?
bagaimana pemasarannya ?
RSS feed for comments to this post.