Seiring perkembangan zaman, bandul perdagangan dunia yang sebelumnya berada di sekumpulan kecil negara maju kini beralih ke negara-negara berkembang. Untuk itu, perlu ada perkuatan jaringan dagang diantara negara-negara berkembang atau sering disebut kawasan Selatan-Selatan.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, dalam satu dekade terakhir, dunia menyaksikan kontribusi negara-negara berkembang, lewat jalur perdagangan, terhadap perekonomian dunia tumbuh kian signifikan. Negara berkembang tersebut di antaranya China, India, Indonesia, Korea, Brazil, Meksiko, dan Turki.
“Saat ini, kita menyaksikan realitas berbeda yang mendorong perubahan bentuk arsitektur perdagangan dunia,” kata Presiden saat membuka World Export Development Forum (WEDF), di Jakarta, Senin (15/10).
Sejumlah negara berkembang tersebut, kata Presiden, berkontribusi sekitar 25 persen terhadap pertumbuhan ekonomi dunia pada tahun lalu, meningkat ketimbang tahun sebelumnya yang sebesar 13 persen. Diperkirakan, pada 2050, kontribusi sejumlah negara berkembang tersebut akan meningkat menjadi 46 persen.
Dari sisi perdagangan dunia, pada tahun lalu, kontribusi mereka sekitar 30 persen dalam perdagangan barang, meningkat dua kali lipat ketimbang satu dekade lalu, yang hanya 15 persen. Serupa, di perdagangan jasa, kontribusi mereka mencapai 25 persen naik dari sebelumnya hanya 12 persen.
“Negara-negara berkembang tersebut menjadi sentral dari perdagangan Selatan-Selatan. Ini adalah salah satu blok perdagangan yang telah menjadi bagian penting dalam arsitektur baru perdagangan dunia,” kata Presiden.
Akselerasi yang terjadi di kawasan Selatan-Selatan terjadi berkat ekspansi perdagangan yang terjadi di antara sesama negara berkembang. Itu dibuktikan lewat kontribusi ekspor dari semua negara berkembang terhadap perdagangan dunia yang mencapai 46 persen pada tahun lalu, naik 33 persen ketimbang sepuluh tahun lalu.
“Ekspor Indonesia sendiri ke sesama negara berkembang, terutama di Asia dan Asia Tenggara, mencapai 50 persen,” kata Presiden.